Panduan Dasar Ibadah Haji

  • Mandi sebelum berihram (Ghusl) yang merupakan suatu tindakan membersihkan diri dari semua kotoran dan dibarengi dengan niat untuk Ihram.
  • Memakai pakaian Ihram – Laki-laki diharuskan memakai dua lembar kain putih yaitu Ridaa dan Izaar, sedangkan untuk perempuan  dapat memakai segala bentuk pakaian yang menutupi tubuh dan kepala.
  • Melaksanakan salat fardu atau salat sunah ihram sebanyak dua rakaat.
  • Menghadap ke arah Kiblat dan melakukan Ihram –  Anda harus melakukan Ihram sebelum Anda menuju Miqot di Mekah.
  • Di Miqot, bacalah Niat untuk melaksanakan ibadah Haji.
  • Membaca Talbiyah dan dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Talbiyah selama berihram sampai melakukan Tawaf.
  • Saat tiba di Ka’bah, berhenti membaca Talbiyah dan sebaiknya Anda sudah dalam keadaan berwudu.
  • Menyentuh Batu Hitam (Hajar Aswad) dan memulai Tawaf. Idealnya, sentuhlah dengan tangan kanan Anda kemudian ciumlah Hajar Aswad. Akan tetapi jika Anda tidak dapat mencium Hajar Aswad secara langsung, Anda dapat menyentuhnya dengan tangan Anda kemudian cium tangan Anda. Jika Anda tidak dapat menyentuh Hajar Aswad, arahkan tangan Anda ke arah Hajar Aswad dan ucapkan “Allahu Akbar”.
  • Berputar mengelilingi Ka’bah dengan Ka’bah berada di sebelah kiri Anda. Untuk laki-laki harus membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka selama melaksanakan Tawaf, yang dikenal sebagai Ittiba’. Hal tersebut dilakukan dengan cara menempatkan Ridaa di bawah ketiak kanan kemudian menariknya dan meletakkannya di atas bahu kiri. Laki-laki juga harus melakukan Raml (berlari-lari kecil) pada tiga putaran pertama Tawaf, yang pada dasarnya berjalan cepat sembari mengambil langkah-langkah kecil kemudian berjalan normal untuk sisa empat putaran lainnya.  
  • Setelah selesai melaksanakan tujuh putaran Tawaf, pergi ke Maqam Nabi Ibrahim AS dan bacalah:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

(Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat. [QS. Al-Baqarah:125])


  • Laksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jika hal tersebut sulit untuk dilakukan, Anda dapat melakukannya dimanapun asalkan tetap di area masjid.
  • Setelah melaksanakan salat dua rakaat, kembalilah ke Batu Hitam dan sentuhlah jika memungkinkan.
  • Berjalanlah menuju tempat Sa’i dan ketika Anda sudah mendekati Bukit Safa, bacalah ayat berikut:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْم

(Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah:158])

  • Naik ke atas Bukit Safa hingga tampak Baitullah, menghadap ke arah Kiblat, angkat kedua tangan Anda dan ucapkan kalimat takbir sebanyak tiga kali:

اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَ حْدَه

(Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapapun.)

  • Turun ke Bukit Marwah dan khusus bagi laki-laki lakukanlah sa’i dengan berlari kecil di antara dua tanda hijau. Jaraknya ditandai oleh dua tanda hijau – khusus bagi laki-laki diharuskan berlari kecil hingga sampai di tanda hijau kedua kemudian berjalan normal naik ke atas Bukit Marwah.
  • Menghadap ke arah Kiblat kemudian ucapkan sebagaimana yang diucapkan di Bukit Safa.
  • Turun dan Bukit Marwah kemudian menuju kembali ke Bukit Safa. Saat tiba di Bukit Safa,  ulangi yang Anda lakukan ketika pertama tiba di Bukit Safa dan ulangi hal yang sama ketika Anda menuju ke Bukit Marwah, lakukan hingga tujuh kali putaran, putaran sa’i yang ke tujuh berakhir di Bukit Marwah (Perjalanan dari Bukit Safa ke Bukit Marwah ataupun sebaliknya, dihitung sebagai satu kali putaran).
  • Berangkat dari Mekah ke Mina setelah salat Subuh pada tanggal 8 Dzulhijah dengan berjalan kaki di sepanjang jalur jemaah atau dengan bus dan mobil. Jarak perjalanan yang ditempuh adalah delapan kilometer.
  • Menghabiskan waktu sepanjang hari di Mina hingga waktu Subuh keesokan harinya. Sebagian besar waktu di Mina dihabiskan untuk berdoa dan mengingat Allah SWT.
  • Pada tanggal 9 Dzulhijah, pergi dari Mina ke Arafah setelah waktu Subuh sembari membaca Istighfar dan berdoa.
  • Saat tiba di Bukit Arafah, laksanakan salat Dzuhur dan Ashar secara Qasar di dekat Jabal Rahmah dari tengah hari hingga terbenamnya matahari. Perbuatan ini dikenal sebagai Wukuf (berdiri di hadapan Allah), bagian yang paling khidmat dari tata cara ibadah Haji.
  • Setelah terbenamnya matahari, menuju ke Muzdalifah untuk melaksanakan salat Magrib dan Isya.
  • Menggabungkan salat Magrib dan Isya secara Jamak dan bermalam di langit terbuka.
  • Mengumpulkan batu yang nanti diperlukan untuk Melontar Jumrah.
  • Saat tiba waktu fajar, laksanakan salat Subuh dan kembali lagi ke Mina sebelum matahari terbit.
  • Melontarkan tujuh buah batu (kerikil) dengan tujuh kali lemparan di Jumrah Aqabah, jika Anda melaksanakan  Haji Qiran (melaksanakan haji dan umrah dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus) atau Haji Tamattu’ (melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian mengerjakan haji), Anda wajib membayar dam. Namun jika Anda melaksanakan Haji Ifrad (melaksanakan haji saja, tanpa umrah), Anda tidak wajib untuk membayar dam. Menurut istilah, dam berarti mengalirkan darah (menyembelih ternak berupa kambing, sapi, atau unta).
  • Kembali ke Masjidil Haram di Mekah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah sebelum kembali ke Mina. Ulangi langkah-langkah Tawaf (dapat mengacu pada Tawaf Qudum).
  • Disebut sebagai Tawaf Ifadah’ karena jemaah berserah diri dan mencurahkan segalanya kepada Allah SWT (‘Ifadah’ berarti ‘mencurahkan’) dari Mina sampai ke Mekah. Tawaf Ifadah dapat disebut juga sebagai ‘Tawaf Haji’ karena Tawaf Ifadah merupakan salah satu rukun Haji.
  • Menghabiskan waktu di Mina dan melontar tujuh buah batu (kerikil) di ketiga jumrah pada setiap harinya.
  • Melontar jumrah dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Jumrah Ula, kemudian Jumrah Wusta dan yang ketiga adalah Jumrah Aqabah.
  • Laki-laki sebaiknya mencukur habis rambutnya atau menggunting sebagian rambutnya. Sementara perempuan dilarang mencukur habis rambutnya dan hanya dibolehkan menggunting beberapa helai rambut saja. Perbuatan ini melambangkan pelepasan seseorang dari penampilan fisik dan bentuk takluk atau berserah diri secara penuh kepada Allah SWT.
  • Tawaf Wada’ merupakan Tawaf perpisahan yang dilaksanakan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan Mekah. Ulangi langkah-langkah Tawaf (dapat mengacu pada Tawaf Qudum).

Cari tahu lebih lanjut tentang Haji & Umrah.

Saksikan Siaran Langsung dari Mekah di sini.