Bagaimana Seekor Unta Mengajari Saya tentang Cara Mengatasi Kegelisahan

Saya memiliki cemas akan sesuatu. Saya selalu hidup dengan bayang-bayang kecemasan tersebut dan terus merasakannya dalam beberapa waktu belakangan ini. Saya pikir mungkin hal itu berasal dari proses pengenalan jati diri saya sewaktu kecil di mana saya mengalami perasaan rendah diri dan merasa tidak mampu melakukan banyak hal secara terus-menerus.


Tumbuh besar di Kota Meritocratic Singapura

Saya dibesarkan di Singapura — ya, rumah bagi ‘Crazy Rich Asians’. Negara yang juga merupakan rumah bagi ribuan anak yang menghabiskan banyak waktu di sekolah, diikuti dengan pelajaran tambahan seperti kelas piano atau biola, karate atau renang dan juga kelas ekstrakurikuler lainnya di malam hari. Tambahan lain mungkin, mengasah kemampuan beragam bahasa juga.

Untungnya atau sayangnya, saya tidak perlu melakukan semua itu karena saya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Kami tidak mampu mendapatkan semua fasilitas tersebut. Kenyataan ini berarti situasi dan kondisi saya berada jauh di belakang anak-anak lain yang tumbuh di keluarga yang mampu dan mereka berkembang begitu pesat di usia belasan tahun, dan pastinya memiliki potensial lebih besar untuk dapat belajar mengejar gelar Sarjana.

Perfeksionisme dan Kegagalan

Saya juga seorang siswa rata-rata. Saya pandai dalam banyak mata pelajaran di sekolah, terutama dalam pelajaran sosial tetapi saya sangat buruk dalam matematika, fisika dan pelajaran sains lainnya.


Meskipun mengetahui kekuatan dan kelemahan saya di usia yang begitu muda, saya tidak pernah membiarkan diri saya menjadi korban dari keadaan saya. Saya berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal. Meyakinkan diri untuk percaya bahwa saya dapat mencapai apa pun yang dilakukan orang lain.

Dan sampai batas tertentu, saya dapat melakukannya. Tetapi kadang hal-hal seperti itu jugalah yang menjadi kelemahan saya dan sumber kecemasan saya.

Cukup banyak list pencapaian yang saya tergetkan, saya dituntun untuk percaya bahwa saya bisa melakukan segala hal. Tetapi sebagai manusia, kita pasti akan menemui titik terbawah dalam hidup dan merasa gagal dalam menghadapi proses kehidupan.

Sayangnya, karena cara saya mengondisikan diri ini selama bertahun-tahun tidak siap untuk menangani kegagalan dan itu berdampak buruk pada kesehatan mental saya. Saya selalu ingin mengendalikan banyak hal dan ketika saya tidak mampu, saya berkutat dengan diri sendiri dalam keadaan cemas, menyalahkan diri sampai terlalu banyak berpikir dan meragukan diri sendiri.

Ikat Unta Anda

Baru-baru ini, saya menghadiri seminar tentang kesehatan mental dan kebugaran yang ditujukan untuk para profesional Muslim di Singapura. Ustadzah yang menjadi pembicara di seminar itu menjelaskan bagaimana umat Islam dapat menyadari manfaat sunnah dan hadits Nabi Muhammad ﷺ untuk membantu membimbing kita menjadi yang terbaik yang kita bisa sambil menjaga kesehatan mental kita.

Salah satu yang paling berkesan yang Ustadzah itu sampaikan dan itu sangat menyentuh saya adalah konsep tawakkal (bergantung pada Allah) dan bagaimana hal itu berbeda dari tamanni (harapan).

Di layar, dia memasang gambar besar unta yang diikat ke tiang. Dia kemudian membagikan sebuah hadits yang sederhana namun sangat menyentuh. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hadits tersebut menguraikan kisah seorang pria Badui yang meninggalkan unta tanpa mengikatnya.

Rasulullah bertanya, ”Mengapa unta itu tidak diikat?”

Lelaki itu menjawab, ”Saya lepaskan unta itu karena saya percaya pada perlindungan Allah SWT.”

Kemudian Rasulullah menegurnya secara bijaksana, ”Ikatlah unta itu, sesudah itu barulah kamu bertawakal.” 

Dalam kesederhanaannya, saya menemukan bahwa mengatasi kecemasan saya bukanlah tentang melepaskan kendali tetapi lebih pada keseimbangan antara mempercayai diri sendiri dan mempercayai Allah beserta rencana-Nya.

Percaya Diri dan Percaya Rencana-Nya

Percaya kepada Allah adalah tawakal. Itu adalah inti dari iman kita. Bahkan atas nama agama kita, ‘Islam’ berarti penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Hal ini dapat ditemukan dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an juga.

 وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

[QS. At-Talaq 65:3]

Dalam hadits tentang mengikat unta, Nabi kita tercinta Muhammad ﷺ mengajarkan kita pelajaran yang sangat penting — pelajaran yang sederhana namun sering diabaikan.

Melakukan uji kelayakan dan bekerja di dunia ini tidak berarti meniadakan tawakal kita terhadap rencana Allah. Arti sebenarnya dari tawakkul adalah tentang memberikan yang terbaik dalam segala hal yang kita lakukan dan kemudian menyerahkan sisanya kepada Allah. Kita menaruh kepercayaan kepada-Nya bahwa Dia akan mengurus sisanya yang tidak berada dalam kendali tangan kita.

Dan dalam kebijaksanaan itu, jika sesuatu yang buruk terjadi dan tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita masih dapat menemukan penghibur dan kedamaian dengan mengetahui bahwa kita telah melakukan yang terbaik. Sisanya terserah qadr (ketetapan) Allah.

Kembali ke pertanyaan awal: melakukan yang terbaik atau percaya kepada Allah? jawabannya adalah cukup ganti ‘atau’ dengan ‘dan’.

Lakukan yang terbaik dan percaya pada Allah. Ikat unta dan biarkan Dia melakukan sisanya.

Dan Allah lebih mengetahui apa yang tidak ketahui.

Ditulis oleh: Abdullah Zaidani