Menavigasi Kesehatan Mental Sebagai Seorang Muslim

Kita telah melalui begitu banyak kesulitan selama hampir dua tahun sejak munculnya wabah yang mendunia yang bahkan hingga kini masih berlangsung – Covid-19. Ketika langkah pemulihan terus digalakan dengan dibukanya kembali aturan perbatasan fisik secara bertahap, namun bukan berarti kita terlepas dari rasa tertekan dari segi emosional karena harus menghadapi situasi pandemi ini.


Satu kekhawatiran utama yang tidak seorang pun dari kita luput dari perasaan ini yaitu timbulnya “kelelahan akibat pandemi”. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelelahan pandemi mengacu pada “orang-orang … merasa kehilangan motivasi untuk mengikuti perilaku dan kebiasaan yang baru untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari virus.” Hal ini dapat mengganggu kesehatan mental di mana kita terus-menerus berjuang melawan perasaan dan emosi negatif yang dapat dengan mudah menguasai kita. Perasaan ini juga yang berpotensi menyeret kita dalam gelombang kegelapan dan depresi, jika kita tidak tetap waspada terhadapnya.

Kembali ke Dasar

Kita seorah ditarik ke berbagai arah berdasarkan peran dan tanggung jawab keluarga dan sosial yang kita miliki. Sebelum kita mampu menjaga orang lain sepenuhnya, kita perlu memastikan bahwa kita baik-baik saja. Mulailah dari yang kecil, dengan memperhatikan kebiasaan kita sehari-hari.

Ikuti kebiasaan diet seimbang. Berolahraga secara teratur. Dapatkan tidur yang cukup. Pernah mendengar semua petuah sebelumnya? Sebagai seorang Muslim, kita mungkin juga mendengar nasihat lainnya, walaupun kebanyakan tanpa kita ketahui/mengerti alasan di baliknya seperti: Berwudhu sebelum tidur, terutama ketika kita susah tidur dan dianjurkan tidur menghadap ke kanan.

Nasihat tersebut bermula dari teladan kebiasaan tidur Nabi Muhammad ﷺ Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin `Azib:


اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu, aku memohon ampunan-Mu dan auk bertaubat kepada-Mu, aku Beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kupada Nabi yang Engkau utus.”

[Sahih Bukhari, no. 247]

Sempurnakan rutinitas sebelum tidur dengan doa-doa berikut – Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas. Seperti yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Rasulullah SAW apabila hendak beranjak ketempat tidurnya setiap malam, Beliau menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniupkan keduanya dan membacakan keduanya surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Kemudian beliau mengusap dengan keduanya bagian mana saja semampunya. Beliau memulainya dari atas kepala dan wajahnya serta bagian belakang dari badannya. Beliau melakukan perkara itu tiga kali.” (HR. Muslim)

Mari Bicara Tentang Diri Sendiri

Ini adalah langkah pertama untuk memelihara pikiran yang sehat. Bicaralah dengan teman, tulis di buku harian Anda atau bagikan kisah inspiratif Anda di sosial media. Lepaskan semua beban dengan mengutarakan “unek-unek” yang ada dalam pikiran Anda. Biasanya langkah pertama adalah yang paling sulit untuk memulai, namun percayalah proses itu sangat berharga. Bantulah diri kita sendiri dengan mengangkat sebagian beban emosional dari pundak kita yang telah menguras emosi dan kekuatan fisik yang dipendam begitu lama.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah diidentifikasi WHO sebagai salah satu strategi utama dalam memerangi kelelahan akibat pandemi: Mengakui dan mengatasi kesulitan. Temukan kelompok yang mendukung pengembangan diri Anda di komunitas lingkungan sekitar Anda. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita alami bisa jadi sangat unik bagi setiap individu; namun, pengalaman seperti itu mungkin juga dimiliki oleh orang lain secara global yang melintasi batas-batas fisik dan budaya.

Validasi perasaan kita dan ambil langkah untuk menyembuhkan diri sendiri secara emosional. Dapatkan bantuan medis profesional, jika perlu. Kemudian perhatikan nilai positiva pada Komunitas yang menjadi “support system” untuk Anda.

Kontekstualisasikan Berkah yang Anda Rasa


Finlandia, sekali lagi, muncul sebagai negara paling bahagia di dunia. Salah satu cara ilmuwan sosial mengukur konsep kebahagiaan yang sulit dipahami adalah dengan mempelajari dukungan sosial yang berdampak pada risiko kesehatan mental berdasarkan cara pemerintah merespons krisis, khususnya saat pandemi. Salah satu alasan yang mendorong Finlandia naik sebagai Negara paling bahagia ditengah pandemi ini adalah “tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap cara penanganan pandemi COVID-19.”

Namun, ini tidak berarti bahwa setiap orang Finlandia melewatkan aktivitas mengunjungi Taman Nasional Oulanka di Kuusamo, guna menghindari depresi, misalnya. Selain sistem pendukung pemerintahan yang nyata tersebut, muncul pendapat lain yang berpendapat bahwa “seseorang harus mengalami kehidupan yang bermakna” agar benar-benar bahagia.

Kebahagiaan berakar pada kehidupan seseorang yang bermakna. Rumit? Ya. Sebuah prioritas? Ya. Dapat dicapai? Sangat memungkinkan!

Sebagai bagian dari Muslim dunia, kehadiran dan nilai dari diri kita biasanya saling terkait dengan identitas diri. Alhamdulillah, kita berkembang dalam lingkungan yang memberikan peluang untuk tumbuhan dan berkembang, tidak hanya untuk teman dan keluarga, tetapi diri kita sendiri. Temukan gairah semangat itu dan ikuti. Baik itu kesukarelaan menjadi volunteer, melukis atau belajar lebih banyak tentang Islam; tidak ada hal yang terlalu sepele jika itu bisa membuat Anda tersenyum, membawa lebih banyak kebahagiaan untuk Anda, menyegarkan jiwa dan membantu menemukan keseimbangan hidup yang tepat untuk Anda.

Kesehatan mental adalah sesuatu yang perlu kita pelihara secara terus-menerus dan jangan biarkan diri kita sendiri, dan orang lain (psst! bagikan artikel ini dengan orang lain dan ajak mereka untuk melakukan hal yang sama), tersapu oleh rutinitas kehidupan sehari-hari yang monoton. Kita berhak mendapatkan kebahagiaan melalui ketenangan pikiran agar emosi kita tetap stabil.

Ditulis oleh: Helmy Sa’at

Diterjemahkan oleh: Nerly