Panduan Dasar Ibadah Haji

  • Mandi sebelum berihram (Ghusl) yang merupakan suatu tindakan membersihkan diri dari semua kotoran dan dibarengi dengan niat untuk Ihram.
  • Memakai pakaian Ihram – Laki-laki diharuskan memakai dua lembar kain putih yaitu Ridaa dan Izaar, sedangkan untuk perempuan  dapat memakai segala bentuk pakaian yang menutupi tubuh dan kepala.
  • Melaksanakan salat fardu atau salat sunah ihram sebanyak dua rakaat.
  • Menghadap ke arah Kiblat dan melakukan Ihram –  Anda harus melakukan Ihram sebelum Anda menuju Miqot di Mekah.
  • Di Miqot, bacalah Niat untuk melaksanakan ibadah Haji.
  • Membaca Talbiyah dan dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Talbiyah selama berihram sampai melakukan Tawaf.
  • Saat tiba di Ka’bah, berhenti membaca Talbiyah dan sebaiknya Anda sudah dalam keadaan berwudu.
  • Menyentuh Batu Hitam (Hajar Aswad) dan memulai Tawaf. Idealnya, sentuhlah dengan tangan kanan Anda kemudian ciumlah Hajar Aswad. Akan tetapi jika Anda tidak dapat mencium Hajar Aswad secara langsung, Anda dapat menyentuhnya dengan tangan Anda kemudian cium tangan Anda. Jika Anda tidak dapat menyentuh Hajar Aswad, arahkan tangan Anda ke arah Hajar Aswad dan ucapkan “Allahu Akbar”.
  • Berputar mengelilingi Ka’bah dengan Ka’bah berada di sebelah kiri Anda. Untuk laki-laki harus membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka selama melaksanakan Tawaf, yang dikenal sebagai Ittiba’. Hal tersebut dilakukan dengan cara menempatkan Ridaa di bawah ketiak kanan kemudian menariknya dan meletakkannya di atas bahu kiri. Laki-laki juga harus melakukan Raml (berlari-lari kecil) pada tiga putaran pertama Tawaf, yang pada dasarnya berjalan cepat sembari mengambil langkah-langkah kecil kemudian berjalan normal untuk sisa empat putaran lainnya.  
  • Setelah selesai melaksanakan tujuh putaran Tawaf, pergi ke Maqam Nabi Ibrahim AS dan bacalah:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

(Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat. [QS. Al-Baqarah:125])

  • Laksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jika hal tersebut sulit untuk dilakukan, Anda dapat melakukannya dimanapun asalkan tetap di area masjid.
  • Setelah melaksanakan salat dua rakaat, kembalilah ke Batu Hitam dan sentuhlah jika memungkinkan.
  • Berjalanlah menuju tempat Sa’i dan ketika Anda sudah mendekati Bukit Safa, bacalah ayat berikut:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْم

(Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah:158])

  • Naik ke atas Bukit Safa hingga tampak Baitullah, menghadap ke arah Kiblat, angkat kedua tangan Anda dan ucapkan kalimat takbir sebanyak tiga kali:

اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَ حْدَه

(Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapapun.)

  • Turun ke Bukit Marwah dan khusus bagi laki-laki lakukanlah sa’i dengan berlari kecil di antara dua tanda hijau. Jaraknya ditandai oleh dua tanda hijau – khusus bagi laki-laki diharuskan berlari kecil hingga sampai di tanda hijau kedua kemudian berjalan normal naik ke atas Bukit Marwah.
  • Menghadap ke arah Kiblat kemudian ucapkan sebagaimana yang diucapkan di Bukit Safa.
  • Turun dan Bukit Marwah kemudian menuju kembali ke Bukit Safa. Saat tiba di Bukit Safa,  ulangi yang Anda lakukan ketika pertama tiba di Bukit Safa dan ulangi hal yang sama ketika Anda menuju ke Bukit Marwah, lakukan hingga tujuh kali putaran, putaran sa’i yang ke tujuh berakhir di Bukit Marwah (Perjalanan dari Bukit Safa ke Bukit Marwah ataupun sebaliknya, dihitung sebagai satu kali putaran).
  • Berangkat dari Mekah ke Mina setelah salat Subuh pada tanggal 8 Dzulhijah dengan berjalan kaki di sepanjang jalur jemaah atau dengan bus dan mobil. Jarak perjalanan yang ditempuh adalah delapan kilometer.
  • Menghabiskan waktu sepanjang hari di Mina hingga waktu Subuh keesokan harinya. Sebagian besar waktu di Mina dihabiskan untuk berdoa dan mengingat Allah SWT.
  • Pada tanggal 9 Dzulhijah, pergi dari Mina ke Arafah setelah waktu Subuh sembari membaca Istighfar dan berdoa.
  • Saat tiba di Bukit Arafah, laksanakan salat Dzuhur dan Ashar secara Qasar di dekat Jabal Rahmah dari tengah hari hingga terbenamnya matahari. Perbuatan ini dikenal sebagai Wukuf (berdiri di hadapan Allah), bagian yang paling khidmat dari tata cara ibadah Haji.
  • Setelah terbenamnya matahari, menuju ke Muzdalifah untuk melaksanakan salat Magrib dan Isya.
  • Menggabungkan salat Magrib dan Isya secara Jamak dan bermalam di langit terbuka.
  • Mengumpulkan batu yang nanti diperlukan untuk Melontar Jumrah.
  • Saat tiba waktu fajar, laksanakan salat Subuh dan kembali lagi ke Mina sebelum matahari terbit.
  • Melontarkan tujuh buah batu (kerikil) dengan tujuh kali lemparan di Jumrah Aqabah, jika Anda melaksanakan  Haji Qiran (melaksanakan haji dan umrah dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus) atau Haji Tamattu’ (melaksanakan umrah terlebih dahulu, kemudian mengerjakan haji), Anda wajib membayar dam. Namun jika Anda melaksanakan Haji Ifrad (melaksanakan haji saja, tanpa umrah), Anda tidak wajib untuk membayar dam. Menurut istilah, dam berarti mengalirkan darah (menyembelih ternak berupa kambing, sapi, atau unta).
  • Kembali ke Masjidil Haram di Mekah untuk melaksanakan Tawaf Ifadah sebelum kembali ke Mina. Ulangi langkah-langkah Tawaf (dapat mengacu pada Tawaf Qudum).
  • Disebut sebagai Tawaf Ifadah’ karena jemaah berserah diri dan mencurahkan segalanya kepada Allah SWT (‘Ifadah’ berarti ‘mencurahkan’) dari Mina sampai ke Mekah. Tawaf Ifadah dapat disebut juga sebagai ‘Tawaf Haji’ karena Tawaf Ifadah merupakan salah satu rukun Haji.
  • Menghabiskan waktu di Mina dan melontar tujuh buah batu (kerikil) di ketiga jumrah pada setiap harinya.
  • Melontar jumrah dilakukan secara berurutan, yaitu dimulai dari Jumrah Ula, kemudian Jumrah Wusta dan yang ketiga adalah Jumrah Aqabah.
  • Laki-laki sebaiknya mencukur habis rambutnya atau menggunting sebagian rambutnya. Sementara perempuan dilarang mencukur habis rambutnya dan hanya dibolehkan menggunting beberapa helai rambut saja. Perbuatan ini melambangkan pelepasan seseorang dari penampilan fisik dan bentuk takluk atau berserah diri secara penuh kepada Allah SWT.
  • Tawaf Wada’ merupakan Tawaf perpisahan yang dilaksanakan sebagai penghormatan akhir sebelum meninggalkan Mekah. Ulangi langkah-langkah Tawaf (dapat mengacu pada Tawaf Qudum).

Cari tahu lebih lanjut tentang Haji & Umrah.

Saksikan Siaran Langsung dari Mekah di sini.

Panduan Dasar Ibadah Umrah

  • Mandi sebelum berihram (Ghusl) yang merupakan suatu tindakan membersihkan diri dari semua kotoran dan dibarengi dengan niat untuk Ihram.
  • Memakai pakaian Ihram – Laki-laki diharuskan memakai dua lembar kain putih yaitu Ridaa dan Izaar, sedangkan untuk perempuan  dapat memakai segala bentuk pakaian yang menutupi tubuh dan kepala.
  • Melaksanakan salat fardu atau salat sunah ihram sebanyak dua rakaat.
  • Menghadap ke arah Kiblat dan melakukan Ihram –  Anda harus melakukan Ihram sebelum Anda menuju Miqot di Mekah.
  • Di Miqot, bacalah Niat untuk melaksanakan ibadah Umrah.
  • Membaca Talbiyah dan dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Talbiyah selama berihram sampai melakukan Tawaf.
  • Saat tiba di Ka’bah, berhenti membaca Talbiyah dan sebaiknya Anda sudah dalam keadaan berwudu.
  • Menyentuh Batu Hitam (Hajar Aswad) dan memulai Tawaf. Idealnya, sentuhlah dengan tangan kanan Anda kemudian ciumlah Hajar Aswad. Akan tetapi jika Anda tidak dapat mencium Hajar Aswad secara langsung, Anda dapat menyentuhnya dengan tangan Anda kemudian cium tangan Anda. Jika Anda tidak dapat menyentuh Hajar Aswad, arahkan tangan Anda ke arah Hajar Aswad dan ucapkan “Allahu Akbar”.
  • Berputar mengelilingi Ka’bah dengan Ka’bah berada di sebelah kiri Anda. Untuk laki-laki harus membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka selama melaksanakan Tawaf, yang dikenal sebagai Ittiba’. Hal tersebut dilakukan dengan cara menempatkan Ridaa di bawah ketiak kanan kemudian menariknya dan meletakkannya di atas bahu kiri. Laki-laki juga harus melakukan Raml (berlari-lari kecil) pada tiga putaran pertama Tawaf, yang pada dasarnya berjalan cepat sembari mengambil langkah-langkah kecil kemudian berjalan normal untuk sisa empat putaran lainnya.
  • Setelah selesai melaksanakan tujuh putaran Tawaf, pergi ke Maqam Nabi Ibrahim AS dan bacalah:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

(Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat. [QS. Al-Baqarah:125])

  • Laksanakan salat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jika hal tersebut sulit untuk dilakukan, Anda dapat melakukannya dimanapun asalkan tetap di area masjid.
  • Setelah melaksanakan salat dua rakaat, kembalilah ke Batu Hitam dan sentuhlah jika memungkinkan.
  • Berjalanlah menuju tempat Sa’i dan ketika Anda sudah mendekati Bukit Safa, bacalah ayat berikut:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْم

(Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah:158])

  • Naik ke atas Bukit Safa hingga tampak Baitullah, menghadap ke arah Kiblat, angkat kedua tangan Anda dan ucapkan kalimat takbir sebanyak tiga kali:

اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر, اللّهُ أكبر

(Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَ حْدَه

(Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapapun.)

  • Turun ke Bukit Marwah dan khusus bagi laki-laki lakukanlah sa’i dengan berlari kecil di antara dua tanda hijau. Jaraknya ditandai oleh dua tanda hijau – khusus bagi laki-laki diharuskan berlari kecil hingga sampai di tanda hijau kedua kemudian berjalan normal naik ke atas Bukit Marwah.
  • Menghadap ke arah Kiblat kemudian ucapkan sebagaimana yang diucapkan di Bukit Safa.
  • Turun dan Bukit Marwah kemudian menuju kembali ke Bukit Safa. Saat tiba di Bukit Safa,  ulangi yang Anda lakukan ketika pertama tiba di Bukit Safa dan ulangi hal yang sama ketika Anda menuju ke Bukit Marwah, lakukan hingga tujuh kali putaran, putaran sa’i yang ke tujuh berakhir di Bukit Marwah (Perjalanan dari Bukit Safa ke Bukit Marwah ataupun sebaliknya, dihitung sebagai satu kali putaran).
  • Setelah melaksanakan Sa’i tujuh putaran, laki-laki sebaiknya mencukur habis rambutnya atau menggunting sebagian rambutnya. Sementara perempuan dilarang mencukur habis rambutnya dan hanya dibolehkan menggunting beberapa helai rambut saja. Perbuatan ini melambangkan pelepasan seseorang dari penampilan fisik dan bentuk takluk atau berserah diri secara penuh kepada Allah SWT.

Cari tahu lebih lanjut tentang Haji & Umrah.

Saksikan Siaran Langsung dari Mekah di sini.

Kata Pengantar

Makna Ibadah Haji

Ibadah Haji adalah ibadah tahunan ke tanah suci Mekah yang dilakukan oleh umat Muslim setidaknya satu kali seumur hidup karena ibadah Haji adalah rukun Islam kelima, kecuali mereka berhalangan untuk melaksanakan ibadah Haji dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan atau kesulitan keuangan.

Secara harfiah, Haji artinya adalah maksud dan tujuan. Secara terminologi syariah, Haji adalah bermaksud pergi ke Baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah Haji.

Salah satu kegiatan ibadah Haji adalah berkunjung ke Ka’bah selama bulan Dzulhijah dan melakukan semua rukun Haji.

Makna Ibadah Umrah

Ibadah Umrah adalah ibadah ke tanah suci Mekah yang dilakukan oleh umat Muslim dan dapat dilakukan setiap saat sepanjang tahun.

Di dalam bahasa Arab, Umrah berarti ‘mengunjungi tempat yang padat’. Ibadah Umrah juga dapat dilakukan secara bersamaan dengan ibadah Haji.

Jenis Ibadah Haji

Haji Ifrad

Haji Ifrad adalah melaksanakan ibadah Haji saja, tanpa melakukan ibadah Umrah. Jemaah yang melaksanakan Haji Ifrad dikenal sebagai Mufrid. Sebagian besar yang melaksanakan Haji Ifrad adalah umat Muslim yang tinggal di daerah perbatasan Masjidil Haram. Ketika jemaah berihram harus dengan Niat ibadah Haji saja, kemudian tetap dalam keadaan Ihram sampai selesai beribadah Haji (Hari Raya Kurban). Jemaah tidak dapat melakukan ibadah Umrah, jika jemaah melakukan ibadah Umrah maka jemaah tidak lagi melakukan Haji Ifrad.

Haji Qiran

Haji Qiran adalah melakukan ibadah Haji dan Umrah secara bersamaan. Jemaah yang melakukan Haji Qiran harus memakai Ihram dengan Niat Umrah dan Haji sekaligus, dan keduanya harus dilakukan dengan menggunakan pakaian Ihram yang sama. Jemaah harus tetap dalam keadaan berpakaian Ihram sampai ibadah Haji dan Umrah telah selesai dilaksanakan.

Haji Tamattu

Haji Tamattu’ adalah melaksanakan ibadah Umrah terlebih dahulu sebelum mengerjakan ibadah Haji. Haji Tamattu’ juga dikenal sebagai Mutamatti, yang berarti Haji yang menyenangkan. Umat Muslim yang datang dari luar Saudi Arabia untuk beribadah Haji pada umumnya melaksanakan Haji Tamattu’ karena tipe Haji ini sudah termasuk melaksanakan ibadah Umrah. Jemaah harus melaksanakan Haji Tamattu’ dengan menggunakan pakaian Ihram yang berbeda, satu untuk ibadah Umrah dan satu untuk ibadah Haji.


Jenis Ibadah Umrah

Umrah Mufradah

Umrah Mufrodah merupakan ibadah  Umroh yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Ibadah Haji, dilakukan secara terpisah dari ibadah Haji. Dilakukan dengan Niat Umrah saja dan dapan dilakukan kapanpun kecuali selama masa Haji.

Umrah Tamattu’

Umrah Tamattu’ adalah ibadah Umrah yang dilakukan berbarengan dengan ibadah Haji, namun ibadah Umrah nya dilakukan terlebih dahulu baru setelah itu melakukan ibadah Haji.

Perbedaan antara Ibadah Haji dan Umrah

1. Haji adalah rukun Islam kelima, dan merupakan hal yang wajib dilakukan minimal satu kali seumur hidup bagi setiap umat Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Sedangkan Umrah tidak termasuk di dalam rukun Islam dan merupakan hal yang sunah.   

2. Ibadah Haji harus dilakukan dalam periode waktu yang telah ditentukan, yaitu di bulan-bulan Haji, lebih tepatnya pada dua minggu pertama bulan Dzulhijah. Sedangkan untuk ibadah Umrah, dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun.

3. Pada ibadah Umrah, ritual yang perlu dilakukan hanya meliputi Tawaf dan Sa’i dengan keadaan berihram, yang dimana ibadah Haji tidak hanya meliputi Tawaf dan Sa’i namun juga meliputi Bermalam di Mina, melakukan Wukuf di Arafah, Bermalam di Muzdalifah, dan Melontar Jumrah. Pada ibadah Haji, jemaah diharuskan berkurban dalam beberapa kondisi. Sedangkan ibadah Umrah tidak memerlukan melakukan kurban.

Cari tahu lebih lanjut tentang Haji & Umrah.

Saksikan Siaran Langsung dari Mekah di sini.


How To Wear Ihram

  1. Prepare two pieces of plain white cloths which are without any hems, seams or buttons. The wraparound is called the Izar and the robe is called Rida’.
  2. Wrap the Izar around the waist covering the area between the navel and feet.
  3. Fasten the belt or clips around the Izar to avoid it slipping off.
  4. Hold the Rida’ horizontally behind your back like wearing a cape and bring the left top end over your shoulder towards your right armpit.
  5. Bring the other end from below your right armpit towards over your left shoulder. Your entire left shoulder area should be completely covered, with your right shoulder bare.
  6. Tie or clip the ends behind your back to secure it. The Rida would be big and wide enough to go across your back.
  7. Opt for footwear that reveals the ankles and toes.
  1. Wear loose fitting clothing/robe that covers the whole body except for the hands and face that should remain exposed.
  2. The clothing/robe can have seams and buttons but should be free of adornments and recommended to be in white or black.

Experience a virtual tour to see major landmarks that millions of pilgrims visit with Muslim Pro’s Virtual Hajj Journey feature. Click here now

Watch Makkah live streaming here

History

Hajj and its rites were first ordained by Allah in the time of the Prophet lbrahim. As a test of faith, Allah had commanded Prophet Ibrahim, to leave his wife, Hajar and his son, Ismail in a desert located between the two hills of Safa and Marwah in Makkah with only basic provisions.

The Rite of Sa’i

After Prophet Ibrahim had left them both there, their provisions soon ran out and Hajar, ran back and forth from hill to hill, seven times searching for water for her parched child. The rite of Sa’i, which is performed by pilgrims during Hajj and Umrah, is a re-enactment of the actions performed by Hajar during her search for water.

A miracle occured where a spring of water from the earth, which is now known as the Zamzam well, sprang from the ground and saved both of them. Prophet Ibrahim eventually came back and retrieved his family from the desert.

Kaabah as the Place of Pilgrimage

Years later, Prophet Ibrahim and his son, Ismail were instructed to construct a monument in dedication to Allah near the site of the Zamzam well. This monument, the Kaabah, was to become a place of pilgrimage for the worship of the one true God. After they built the Kaabah, Allah commanded Prophet Ibrahim to proclaim a pilgrimage to the site — in other words, the Hajj — to all mankind so that they can come together in one place to show their devotion.

Centuries down the line, the people of Makkah abandoned the worship of one God and denigrated into idolatry and polytheism, during a period known as the Jahiliyyah (the Age of Ignorance). During this time, the Kaabah was surrounded by 360 idols and statues depicting human and animal deities which were openly worshipped.

The Time of Prophet Muhammad

In 610 CE, the Prophet Muhammad ﷺ received his first revelations from Allah during which he was divinely instructed to re-establish monotheism. Twenty years after the first revelation, Prophet Muhammad ﷺ had amassed enough religious and political authority to gain victory in Makkah, the city where he was born and where he suffered much persecution at the hands of its inhabitants. He destroyed the idols in and around the Kaabah and rededicated it to the worship of one God.

Jabal al-Rahmah is the site where Prophet Muhammad ﷺdelivered his farewell sermon. In 623 CE (10 AH), shortly before his demise, Prophet Muhammad ﷺ personally led his one and only Hajj, known as Hajj al-Wida, accompanied by thousands of companions. He gave his farewell sermon at Jabal Arafat, where he emphasised the equality and unity of the Muslim Ummah, a symbol of the egalitarian nature of the Hajj pilgrimage. The Hajj, as performed by Prophet Muhammad ﷺ on that occasion, continues to this day.

Throughout Prophet Muhammad’s ﷺ time, Muslims faced restrictions to access the holy site of Makkah and thus, were denied their rights to practice the Hajj and Umrah pilgrimages. Makkah was occupied by Arabs who were indulged in worshipping of idols and were not ready to accept the truth and brightness of Islam. Due to trouble that were caused by the non- believers, Prophet Muhammad ﷺ and Muslims fled from Makkah and made Madina their second home where they were welcomed wholeheartedly.

The Treaty of Hudaibiyyah

During this time, Prophet Muhammad ﷺ knew the strong desire of Muslims to visit Makkah and perform Umrah. In 628 CE, Prophet Muhammad ﷺ made the decision to finally go to Makkah so they could perform the pilgrimage. He and his followers were stopped at Hudaibiya and were refused entry by the Quraysh (a local tribe). Even after Prophet Muhammad ﷺ explained that they only wished to perform the pilgrimage, the Quraysh did not allow them to pass through.

Prophet Muhammad ﷺ refused to use force to enter Makkah so, diplomatic negotiations were pursued. An agreement was drawn up and signed in regards to visit Makkah and it is known as the  “Treaty of Hudaybiyyah”. The agreement was signed for 10 years as a peace maintaining agreement between the parties. Muslims were not allowed to perform the Umrah that year but were asked to come back the following year for the purpose.

The First Umrah

The first Umrah was the first pilgrimage that Prophet Muhammad ﷺ and the Muslims made after the migration to Madina. It took place on the morning of the fourth day of in 629 CE (7 AH), after the Treaty of Hudaybiyyah in 628 CE and the first Umrah lasted for three days.

The Succession of Makkah

In 630 CE, Muslims had become a formidable force and Prophet Muhammad ﷺ decided to attack Makkah along with the suggestions of companions and of course by the will of Allah.

On arrival of Muslims at Makkah, the leaders of Quraysh realised that they were not able to fight against the Muslims so they chose to surrender. They were terrified about the impending conquest of theirs. However, Prophet Muhammad was a merciful person and in accordance to his personality he claimed forgiveness for all of the ones who had no longer wish to fight against Muslims and forgave even the most ardent foes.

This victory of Muslims is known as “Succession of Makkah” and even for today is an exemplary case to wind up a conflict without any bloodshed.

Experience a virtual tour to see major landmarks that millions of pilgrims visit with Muslim Pro’s Virtual Hajj Journey feature. Click here now

Watch Makkah live streaming here

Basic Umrah Guide

  • Take a bath (Ghusl) which showcases an act of washing away all impurities with the intention for Ihram.
  • Change into Ihram sheets – Men should change into the two fabrics known as Ridaa and Izaar, whereas women can wear any form of clothing which covers the body and head.
  • Perform the obligatory prayers or offer two rakaat of Sunnah prayer.
  • Face the direction of the Qibla and officially enter Ihram – You must enter Ihram before you leave for the Meeqat in Makkah.
  • At the Meeqat, make the Niyyah (intention) to perform the Umrah.
  • Recite the Talbiyah and it is advised to keep reciting it from the moment Ihram is entered until the performance of the Tawaaf.
  • Upon arriving at the Kaabah, stop reciting the Talbiyyah and you must be in Wudu (ablution).
  • Touch the Black Stone (Hajr e Aswad) and start the Tawaaf. Ideally, touch it with your right hand and then kiss it. If, however, you are unable to kiss it directly, you can touch it with your hand then kiss your hand. If  you are not able to touch the stone with your hand, face your hand in the direction of the stone and say “Allahu Akbar”.
  • Make rounds around the Kaabah with the Kaabah being on your left. Men must keep the right shoulder uncovered during the Tawaaf, which is known as Idtibaa. This is done by placing the Ridaa beneath the right armpit and taking it up on the left shoulder. Men must also practice ‘Raml’ in the first three rounds of Tawaaf, which is essentially walking fast while taking small steps and walk normally during the other four rounds.
  • Upon finishing the seven rounds of Tawaaf, go to the station of Ibrahim (Maqaam e Ibraheem) and recite:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

(And take you (people) the Maqaam (place) of Ibraheem as a place of Prayer. [Quran; 2:125])

  • Perform two rakaat of prayer behind Maqaam e Ibraheem. If that is difficult, you can offer the prayers in any spot of the mosque.
  • Upon offering the prayer, head back to the Black Stone and touch it if possible.
  • Head for the place of Sa’i and when you near the hill of Safa, the following should be recited:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْم

(Verily, As‐Safaa and Al‐Marwah are from the symbols of Allah. So it is not a sin on him who performs Hajj or ‘Umrah of the house (ka ‘bah) to perform the going (tawaaf) between them. And whoever does good voluntarily, then verily, Allah is the All‐Recognizer, All‐Knower. [Quran; 2:158])

  • Ascend upon Mount Safaa, face the Qiblah, raise your hands and recite 3 times:

اللّهُ أكبر، اللّهُ أكبر، اللّهُ أكبر

(Allaah is the Greatest, Allaah is the Greatest, Allaah is the Greatest.)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَ حْدَه

(There is nothing worthy of worship except Allah, Alone. He has no partner, To Him belongs the kingdom, & all praise belongs to Him, & He has power above all things, There is nothing worthy of worship except Allah, He fulfilled His promise, Granted victory to His servant, And alone He defeated the allied army.)

  • Descend down to Marwah and the men are to run between the green lights. The distance is marked by two green markers – the men should run till the second marker and then walk up normally to the hill of Marwah and climb up.
  • Face the Qibla and recite what you have said at Safa.
  • Descend again and head towards Safa. Upon reaching Safa,  repeat what you did the first time and repeat the same when you go back to Marwah for seven circuits (One circuit is from Safa to Marwah).
  • Upon the completion of the seven circuits, men should get their head completely shaved, or get their hair clipped. While women are forbidden to shave their heads and only allowed to have a lock or strand of their hair clipped. The act of cutting the hair symbolizes one’s detachment from physical appearances and complete subjection to Allah.

Experience a virtual tour to see major landmarks that millions of pilgrims visit with Muslim Pro’s Virtual Hajj Journey feature. Click here now

Watch Makkah live streaming here

Basic Hajj Guide

  • Take a bath (Ghusl) which showcases an act of washing away all impurities with the intention for Ihram.
  • Change into Ihram sheets – Men should change into the two fabrics known as Ridaa and Izaar, whereas women can wear any form of clothing which covers the body and head.
  • Perform the obligatory prayers or offer two rakaat of Sunnah prayer.
  • Face the direction of the Qibla and officially enter Ihram – You must enter Ihram before you leave for the Meeqat in Makkah.
  • At the Meeqat, make the Niyyah (intention) to perform the Hajj.
  • Recite the Talbiyah and it is advised to keep reciting it from the moment Ihram is entered until the performance of the Tawaaf.
  • Upon arriving at the Kaabah, stop reciting the Talbiyyah and you must be in Wudu (ablution).
  • Touch the Black Stone (Hajr e Aswad) and start the Tawaaf. Ideally, touch it with your right hand and then kiss it. If, however, you are unable to kiss it directly, you can touch it with your hand then kiss your hand. If  you are not able to touch the stone with your hand, face your hand in the direction of the stone and say “Allahu Akbar”.
  • Make rounds around the Kaabah with the Kaabah being on your left. Men must keep the right shoulder uncovered during the Tawaaf, which is known as Idtibaa. This is done by placing the Ridaa beneath the right armpit and taking it up on the left shoulder. Men must also practice ‘Raml’ in the first three rounds of Tawaaf, which is essentially walking fast while taking small steps and walk normally during the other four rounds.
  • Upon finishing the seven rounds of Tawaaf, go to the station of Ibrahim (Maqaam e Ibraheem) and recite:

وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى

(And take you (people) the Maqaam (place) of Ibraheem as a place of Prayer. [Quran; 2:125])

  • Perform two rakaat of prayer behind Maqaam e Ibraheem. If that is difficult, you can offer the prayers in any spot of the mosque.
  • Upon offering the prayer, head back to the Black Stone and touch it if possible.
  • Head for the place of Sa’i and when you near the hill of Safa, the following should be recited:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيْم

(Verily, As‐Safaa and Al‐Marwah are from the symbols of Allah. So it is not a sin on him who performs Hajj or ‘Umrah of the house (ka ‘bah) to perform the going (tawaaf) between them. And whoever does good voluntarily, then verily, Allah is the All‐Recognizer, All‐Knower. [Quran; 2:158])

  • Ascend upon Mount Safaa, face the Qiblah, raise your hands and recite 3 times:

اللّهُ أكبر، اللّهُ أكبر، اللّهُ أكبر

(Allaah is the Greatest, Allaah is the Greatest, Allaah is the Greatest.)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ الأَحْزَابَ وَ حْدَه

(There is nothing worthy of worship except Allah, Alone. He has no partner, To Him belongs the kingdom, & all praise belongs to Him, & He has power above all things, There is nothing worthy of worship except Allah, He fulfilled His promise, Granted victory to His servant, And alone He defeated the allied army.)

  • Descend down to Marwah and the men are to run between the green lights. The distance is marked by two green markers – the men should run till the second marker and then walk up normally to the hill of Marwah and climb up.
  • Face the Qibla and recite what you have said at Safa.
  • Descend again and head towards Safa. Upon reaching Safa,  repeat what you did the first time and repeat the same when you go back to Marwah for seven circuits (One circuit is from Safa to Marwah).
  • Set out from Makkah to the sprawling tent-city of Mina after the Fajr prayer on the 8th of Dhul Hijjah whether by foot along pilgrim paths or by buses and cars. It is an 8 km journey.
  • Spend the entire day in Mina up till Fajr of next day. Most of the time in Mina is to be spent in prayer and remembering Allah.
  • On the 9th of Dhul Hijjah, travel to Arafat from Mina after Fajr reciting Istighfar and making supplications.
  • Upon reaching Mount Arafat, observe Duhr and Asr combined with Qasar prayers near the Jabal al-Rahmah from noon to sunset. This act is known as Wuquf (standing before Allah), the most solemn rite of the Hajj.
  • After sunset, head to Muzadalifa to observe the evening prayers.
  • Combine Maghrib and Isha prayers and spend the night in the open sky.
  • Collect the pebbles you will need for the Stoning.
  • At dawn, perform Fajr prayers and before the sun has risen, set off for Mina again.
  • Throw seven pebbles at the Jamraat al Aqaba and after stoning of the pillars of temptation (signifying the temptations of Satan), a sacrifice is required if you are performing Hajj Qiran or Hajj Tamattu’. A sacrifice is recommended, although not required, for Hajj al-Ifrad.
  • Return to Masjid al Haram in Makkah to perform Tawaaf al Ifadah before returning to Mina. Repeat steps of Tawaaf (refer to Tawaaf al Qudum).
  • It is called Tawaaf al Ifadah’ because the pilgrims pour forth (‘Ifadah’ means ‘pouring forth’) into Makkah from Mina. It is also called ‘Tawaaf al Hajj’ because by consensus of all the schools it is rukn of the Hajj.
  • Spend time in Mina and throw seven pebbles at all three Jamraat on each day.
  • You will stone the three pillars in a set order, performing Jamraatul as Sughra, Jamraatul al Wusta and Jamraatul al Qubra.
  • Men should get their head completely shaved, or get their hair clipped. While women are forbidden to shave their heads and only allowed to have a lock or strand of their hair clipped. The act of cutting the hair symbolizes one’s detachment from physical appearances and complete subjection to Allah.
  • This Tawaaf (the farewell Tawaaf) marks the end of your Hajj. Repeat steps of Tawaaf (refer to Tawaaf al Qudum).

Experience a virtual tour to see major landmarks that millions of pilgrims visit with Muslim Pro’s Virtual Hajj Journey feature. Click here now

Watch Makkah live streaming here