Quran di Tangan Kita : Memahami Sejarahnya

Al-Qur’an telah dan akan terus menjadi bagian dari keseharian kita hingga akhir hayat kita di dunia. Kitab suci yang berperan penting dalam hidup kita ini dapat selalu diakses dalam bentuk fisiknya. Kemajuan teknologi telah memperluas aksesibilitas kepadanya bagi semua orang dan siapa pun yang memiliki sambungan internet.

Karenanya, baik secara sadar maupun tidak, sudah lama kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki. 114 surat yang dapat mudah kita akses melalui ponsel di aplikasi kami, seperti Muslim Pro, tidak tiba-tiba hadir secara instan begitu saja. Dibutuhkan proses panjang; sebuah upaya kolektif para umat dari generasi lain yang bertekad memberi kita, lebih dari 1,5 miliar rakyat Muslim dari umat global saat ini, agar dikaruniai anugerah ini.

Hanya saja, ada berapa banyak dari kita yang mampu menghafalnya untuk salat setiap hari?

Di sinilah pemahaman dan pembelajaran sejarah dapat membantu mencerahkan dan memperdalam pemahaman kita yang akan semakin memperkuat kecintaan kita pada Al-Qur’an.

Wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ di tahun 610 M. Bagaimana Nabi kita tercinta kemudian mampu melanjutkan dakwahnya, sesuai firman Allah SWT, sampai sepeninggalnya tahun 632 M jika tanpa kitab suci yang biasa kita gunakan saat ini? 

Yang harus kita pahami adalah, bahwa konteks sejarah yang menjadi kunci untuk mengatasi komplikasi dalam upaya penyusunan kitab suci Al-Qur’an. Di masa itu, masih jarang orang yang mampu membaca. Karena itu mereka merekam dengan cara menghafalnya, yang mana berakar dari tradisi oral yang lantas menyebar luas. Pun demikian, terdapat variasi manuskrip surat dari waktu ke waktu yang ditulis di berbagai materi, mulai dari lembaran kulit sampai daun lontar.

Kemudian, Khalifah Abu Bakar RA memegang peranan penting dalam memprakarsai upaya penyusunan kitab suci Al-Qur’an. Kala itu 70 orang penghafal Al-Qur’an telah gugur di Pertempuran Yamamah, di situlah baru terasa pentingnya melakukan pembukuan. Mulai dari pengumpulan potongan ayat-ayat yang tertulis sampai hafalan ayat-ayat Al-Qur’an oleh para sahabat, dimulailah proses panjang dan sukar, tapi sangat diperlukan – untuk verifikasi di mana terdapat isu-isu seperti dialek dan ejaan – dalam prosesnya.

Dengan pertimbangan untuk kebaikan di masa mendatang, salinan-salinan lama lantas dihancurkan; ini bertujuan mencegah konflik yang dapat timbul dari perdebatan. Kemudian sekitar tahun 650 M, Khalifah Utsman mengirimkan versi resmi kitab suci ke berbagai kota untuk disalin. Demikianlah, generasi mendatang hingga hari ini dapat hidup sesuai dengan firman Allah, yang secara tidak langsung merupakan hasil upaya para umat Muslim di masa silam.

Jangan sia-siakan waktu berharga dan mulailah lebih menghargai dan secara aktif memastikan Al-Qur’an terus menjadi cahaya dan berkah dalam hidup kita.

Ditulis oleh: Helmy Sa’at

Salaam, Kami Tim Manajemen Muslim Pro!

Seri ‘Salaam…’ memperkenalkan para anggota tim Muslim Pro ke lebih dari 100 juta audiens setia kami. Pelajari apa yang kami lakukan, seperti apakah kami dan seperti apa rasanya mengerjakan aplikasi Muslim no.1 di dunia!

Apa yang sebenarnya kalian lakukan di Muslim Pro?

Kami berperan dalam mengawasi berbagai aspek dalam pengoperasian Muslim Pro. Antara lain komersial, pemasaran, komunikasi, serta membangun komunitas untuk Muslim Pro, selain juga mencari apa saja yang perlu dilakukan ke depannya untuk Muslim Pro dan memberi nilai lebih bagi 110 juta pengguna setia kami. Saat ini kami juga berupaya memosisikan Muslim Pro sebagai pemimpin pemikiran dalam Ruang Digital Muslim, melalui aneka konten dan fitur mutakhir.

Saat ini, sebagian besar fokus kami adalah meluncurkan vertikal baru di ruang konten kami. Berbagai pengembangan baru akan segera hadir, dan kami tak sabar ingin menambahkan nilai dan menghadirkannya pada pengguna!

Apa syarat menjadi bagian dari tim?

Keberhasilan yang telah kami kumpulkan seiring waktu adalah berkat kegigihan dan ketekunan para anggota dalam organisasi. Mereka bekerja tak kenal lelah demi memastikan produk dan pengalaman pengguna terbaik. Itulah sebabnya kami dapat membuka jalan dan menikmati kesuksesan global seiring berjalannya waktu.

Ketabahan, kemampuan beradaptasi, hasrat melayani komunitas, dan semangat untuk terus meningkatkan produk adalah hal-hal yang dibutuhkan untuk menjadi bagian tim kami. Pemikiran kritis dan strategis kerap dibutuhkan untuk melalui lanskap Ruang Digital Muslim yang terus bertumbuh. Setiap anggota tim juga diberdayakan membuat keputusan yang terbaik bagi departemennya; ide-ide diharapkan dan disambut dengan baik hingga melahirkan budaya yang mendorong adanya diskusi terbuka, hingga melahirkan inovasi. Kami sangat menyarankan Anda menyimak lowongan yang tersedia untuk memulai perjalanan karir yang bermanfaat bersama Muslim Pro.

Momen apa yang paling menantang sejauh ini?

Jawabannya mudah, yakni memenuhi kebutuhan, persepsi dan kepercayaan umat Muslim yang beragam secara global. Kami tersedia di 190 market dan seorang Muslim di Asia sangat berbeda dengan Muslim di Afrika atau AS, contohnya. Kita mungkin punya nilai-nilai dan kepercayaan religius yang sama namun dipengaruhi oleh budaya yang berbeda. Tidak ada satu strategi yang mampu menyelesaikan segalanya. Setiap strategi, inisiatif, produk yang diperkenalkan, harus mampu melayani kelompok Muslim yang sangat beragam. Kami perlu mengglobal, sekaligus relevan di tingkat lokal.

Di waktu bersamaan, SDM merupakan aset terbaik kami dan saat perusahaan melalui lintasan pertumbuhan dan berkembang beberapa kali lipat, kami perlu memastikan untuk mengarahkan semua orang ke target dan visi yang sama.

Apa bagian terbaik dari pekerjaan ini?

Mampu memberi dampak bagi jutaan umat Muslim secara global melalui inisiatif yang telah kami implementasikan. Ini memberi kami semangat untuk melakukan lebih banyak hal bagi komunitas. Karena teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia saat ini dan kita tak dapat menghindarinya, kami di Muslim Pro membantu umat Muslim secara global menerima pengamalan, peningkatan serta pembelajaran ajaran Islam melalui teknologi. Di Muslim Pro, kami mampu menggabungkan teknologi dan ajaran Islam dengan seimbang dalam keseharian pengguna.

“Setiap anggota tim juga diberdayakan membuat keputusan yang terbaik bagi departemennya dimana ide-ide diharapkan dan disambut dengan baik hingga melahirkan budaya yang mendorong adanya diskusi terbuka, hingga melahirkan inovasi.”

Fara Abdullah,

Managing Director

Sebutkan satu kata yang tepat untuk tim ini. Dan apa alasannya?

Tidak mungkin hanya satu! Beraneka ragam, berhasrat dan diberdayakan, sama seperti pengguna aplikasi kami.

5 Akun Media Sosial untuk Edukasi Diri tentang Krisis Afghanistan

Kita telah menyaksikan besarnya penderitaan dan rasa pilu yang dirasakan warga Afganistan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2021. Di beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah warga Afganistan yang menggunakan media sosial baik untuk menyuarakan isu-isu tertentu seperti HAM, atau sekadar berbagi aspek positif dari hidupnya di negara yang dilanda perang dengan 38 juta penduduk ini.

Dengan lebih dari setengah miliar pengguna global aktif setiap harinya, Instagram (IG) merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif dan berdampak. Tidak diragukan bahwa media sosial, terutama IG, telah dan akan terus memegang peran penting dalam memberikan pemahaman lebih mendalam akan realita yang terus berubah di dunia. Tidak hanya menyampaikan kepahitan, tetapi juga sebagai sarana berbagi sedikit kebahagiaan kecil dalam keseharian. Selain mengonsumsi berita di media mainstream, IG memberi pandangan yang lebih berimbang, yang tidak selalu dilaporkan secara global.

@sadiqa_madadgar

Dengan lebih dari 200.000 pengikut, Anda akan mampu bersimpati dengan Sadiqa tanpa perlu bertemu langsung dengannya. Sadiqa berhenti memosting sementara saat Taliban kembali ke Kabul. Seperti kebanyakan influencer lain, dia takut dengan aksi pengekangan dan pembalasan dari Taliban. Akan tetapi, para pengikutnya lega saat melihat dia belum lama ini kembali aktif membuat postingan. Sebagai mantan peserta kompetisi menyanyi, Sadiqa berfokus pada kesehariannya yang memberi inspirasi dan bahkan mematahkan miskonsepsi tentang Islam dan umat Islam itu sendiri. 

@sincerelynooria

Tinggal di luar Afganistan, Nooria aktif menyoroti pelanggaran HAM dan kebutuhan kemanusiaan mendesak ke lebih dari 16.000 pengikutnya. Aktivisme daring dan sosialnya merupakan indikasi jelas bahwa sebagai bagian dari umat Islam, kita memiliki kewajiban untuk tidak melupakan bencana yang masih dialami warga Afganistan. Selain itu, kita tidak harus memiliki hubungan keluarga atau mengunjungi negara yang dilanda perang, seperti Afganistan, untuk dapat sadar secara sosial dan berkontribusi meringankan penderitaan orang lain.

@emroophotos

Selain foto-foto yang indah, nostalgia yang pahit adalah salah satu hal utama yang diabadikan dan disampaikan dengan indah oleh @emproophotos. Sebagai seseorang yang tengah menghadapi tantangan baru sebagai pencari suaka di mancanegara, akunnya menampilkan segudang keindahan negaranya serta beragam budaya yang mematahkan persepsi kuno yang dimiliki orang asing. Karena pernah berkunjung ke lebih dari 20 provinsi, postingannya akan selalu membuat kita penasaran. Luangkan waktu melihat postingannya tanggal 16 September 2021, di mana dia mengenang perjuangannya yang terpaksa meninggalkan negeri tercinta dan

5 Greatest Miracles of Prophet Muhammad ﷺ

Whenever we hear the word miracle, surely immediately we will think of something that is beyond our understanding as a human being. On the other hand, nothing is impossible with the will of Allah. Similarly, there are various miracles performed by our beloved prophet, Prophet Muhammad ﷺ. 

Miracle is an extraordinary event bestowed by Allah to His messengers as evidence of the authenticity of their prophecy. It is something that no other human being can do. Among the miracles of Prophet Muhammad ﷺ are:

1.     The Holy Quran

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا 

Say, “If mankind and the jinn gathered in order to produce the like of this Qur’an, they could not produce the like of it, even if they were to each other assistants.” 

[Al – Isra’ 88:111]

The Holy-Quran is the first and the greatest miracles of the Prophet ﷺ. It is a book that will remain unchanged until the Day of Judgement and will always be the guide of life for Muslims around the world. 

2.        The Splitting Moon

Narrated by Anas ibn Malik r.a:

أن أهل مكة سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يريهم آية فأراهم القمر شقتين حتى رأوا حراء بينهما

The people of Mecca requested Prophet ﷺ to show them a miracle, and so he showed them the moon split in two halves between which they saw the Hira’ mountain.

[Sahih Al-Bukhari]

The miracle of the splitting moon is a miracle shown to the Meccan polytheists who asked for proof of his prophethood. Prophet ﷺ then said: “Witness”. When the moon split in two, the Hira’ mountain appeared to be between the two split moons. He explained that with Hira’ mountain visible, they could see that the moon was completely split.

3.     Isra and Miraj: The Night Journey and Ascension 

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Glory be to the Most Perfect One Who took His servant for a journey on a (blessed) night from Masjidil Haraam (in Mecca) to Masjidil Aqsa (in Jerusalem) where its surrounding area We have blessed so that We may show him some of Our signs. Indeed, He alone is the One who hears all and sees all. 

[Al – Isra’ 1:111]

4.     Water Flowed from Prophet’s ﷺ Hands

Narrated by Anas ibn Malik r.a:

أتي النبي صلى الله عليه وسلم بإناء وهو بالزوراء فوضع يده في الإناء فجعل الماء ينبع من بين أصابعه فتوضأ القوم

Prophet ﷺ was given a container while in Zawra’ and he dipped his hands in the container. Then, water began to flow from his fingers like a fountain and the people performed ablution.

[Sahih Al – Bukhari]

Once the time for prayer approached but the companions could not find any water to perform ablution and this matter came to the knowledge of the Prophet ﷺ. The Prophet ﷺ asked for a bowl and put his hand in the bowl and the water began to squirt out of his fingers and the water sufficed for the companions to perform ablution. 

5.     A Little Amount of Food That Multiplied

Narrated by Anas ibn Malik r.a:

بعثني أبو طلحة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لأدعوه وقد جعل طعاما قال: فأقبلت ورسول الله صلى الله عليه وسلم مع الناس، فنظر إلي فاستحييت فقلت: أجب أبا طلحة. فقال للناس: قوموا. فقال أبو طلحة: يا رسول الله إنما صنعت لك شيئا. قال: فمسها رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعا فيها بالبركة ثم قال: أدخل نفرا من أصحابي عشرة. وقال: كلوا، وأخرج لهم شيئا من بين أصابعه فأكلوا حتى شبعوا فخرجوا. فقال: أدخل عشرة، فأكلوا حتى شبعوا. فما زال يدخل عشرة ويخرج عشرة حتى لم يبق منهم أحد إلا دخل فأكل حتى شبع ثم هيأها فإذا هي مثلها حين أكلوا منها.

Abu Talhah sent me to Prophet to call him to eat. He said: I met Rasulullah ﷺ. when he was with the people, then he looked at me, I was ashamed, and I said: Accept the invitation of Abu Talhah. He then said: “Come on (all)”. Abu Talhah said: O Messenger of Allah ﷺ. I have only prepared a little food for you. The Prophet touched the food and prayed for blessings for him and then said: “Enter ten people” and then said: “Eat”. He scooped the food out of his fingers, then they ate until they were full and then they came out. Then he said: “Enter ten more”. They ate until they were full. This thing went on for ten people until all were full. Then he kept the food while the contents were the same as when they ate earlier (a lot).

[Muslim]

This incident happened when Abu Talhah heard the weak voice of Prophet ﷺ and he knew that it was a sign that the Prophet ﷺ was feeling hungry. He then, told his wife to prepare food for the Prophet ﷺ. The food they had was very little. Hence, he asked Anas Bin Malik to invite the Prophet ﷺ to eat at his house. At that time, the Prophet ﷺ was in the mosque with other companions. Then he invited all of them to come along. The matter surprised Abu Talhah because the food provided was not enough for all the companions, but only for the Prophet ﷺ. However, when the Prophet ﷺ entered the house of Abu Talhah, the Prophet ﷺ asked the companions, as many as ten people at a time, to enter the house to eat in turns and then distributed food to them until they were all full and satisfied. The total number at that time was 70 or 80 people.

Insha’Allah, by knowing more about the various miracles from the Prophet Muhammad ﷺ, we can increase our faith in Allah.

——————————————————————————————————————————–

Abdul Rahman Rahuni

Ustadz Abdul Rahman Rahuni. The author is a graduate of the Islamic University of Madinah  studying in the field of Islamic Sharia. He is currently a lecturer at Sekolah Menengah Ugama Islamiah, Tawau, Sabah.

5 Mukjizat Paling Mengagumkan Nabi Muhammad ﷺ

Apabila mendengar perkataan mukjizat, pasti dalam fikiran anda akan serta merta terfikir sesuatu perkara atau kejadian yang di luar kefahaman anda sebagai manusia biasa. Sebaliknya sudah tentu tiada yang mustahil jika Allah SWT berkehendak. Begitu juga dengan pelbagai mukjizat yang dilakukan oleh nabi junjungan kita, Nabi Muhammad ﷺ.

Mukjizat ialah sesuatu yang dikurniakan kepada rasul untuk membenarkan risalah yang dibawanya. Ia adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lain. Antara mukjizat Rasulullah ﷺ ialah:

1. Al-Quran

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا 

“Katakanlah: Jika manusia dan jin untuk mendatangkan sesuatu yang sama seperti Al-Quran ini mereka pasti tidak akan dapat membawakannya sekalipun mereka saling bekerjasama.” [Al-Isra 17:88]

Kehadiran Al-Quran menjadi mukjizat pertama serta mukjizat terbesar dan abadi yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sejak wahyu pertama kali diturunkan, sehingga saat ini, dan sehingga hari kiamat nanti, Al-Quran akan sentiasa menjadi pedoman hidup umat Islam di seluruh dunia.

2. Terbelah Bulan

عن أنس بن مالك رضي الله عنه :أن أهل مكة سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يريهم آية فأراهم القمر شقتين حتى رأوا حراء بينهما

Daripada Anas Bin Malik r.a: “Ahli Mekah meminta Rasulullah memberikan mereka bukti (kerasulan) maka Baginda pun memperlihatkan mereka bulan terbelah dua sehingga mereka boleh melihat gunung Hira’ antara keduanya”. – Riwayat Al-Bukhari

Peristiwa ini berlaku apabila orang musyrikin Mekah meminta kepada Rasulullah ﷺ menunjukkan bukti kemukjizatannya untuk menguji kerasulan Baginda, lalu bulan terbelah dan Rasulullah ﷺ pun berkata: “Saksikanlah”. Apabila bulan terbelah dua mereka dapat melihat bukit Hira’ seolah-olah berada di antara kedua-dua bulan yang terbelah. Ia menjelaskan bahawa dengan terbelahnya bulan tersebut mereka dapat melihat ia benar-benar terbelah sehingga bukit Hira’ kelihatan di antara kedua-dua belahan tersebut.

3. Isra’ dan Mi’raj

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ 

“Maha suci (Allah) yang menjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkati sekitarnya agar Kami memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”.  [Al-Isra 17:1]

4. Keluar Air daripada Celah Jari 

عن أنس رضي الله عنه قال :أتي النبي صلى الله عليه وسلم بإناء وهو بالزوراء فوضع يده في الإناء فجعل الماء ينبع من بين أصابعه فتوضأ القوم. 

Daripada Anas Bin Malik r.a katanya: Rasulullah diberikan sebuah bekas air ketika berada di Zaura’, lalu Baginda meletakkan tangannya di dalam bekas tersebut.  Airpun mula terpancut daripada celah jari jemari Baginda lalu orang ramai pun berwudhu’. – Riwayat Al-Bukhari

Suatu hari ketika masuk waktu solat para sahabat mencari air untuk berwudhu namun tidak menemuinya, lalu perkara ini sampai ke pengetahuan Baginda. Lalu Baginda meminta dibawakan sebuah bekas air lalu meletakkan tangannya di dalam bekas tersebut dan air pun mula memancut keluar daripada jari jemari Baginda sehingga semua sahabat dapat berwudhu. 

5. Makanan Sedikit Menjadi Banyak 

أنس بن مالك قال: بعثني أبو طلحة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لأدعوه وقد جعل طعاما قال: فأقبلت ورسول الله صلى الله عليه وسلم مع الناس، فنظر إلي فاستحييت فقلت: أجب أبا طلحة. فقال للناس: قوموا. فقال أبو طلحة: يا رسول الله إنما صنعت لك شيئا. قال: فمسها رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعا فيها بالبركة ثم قال: أدخل نفرا من أصحابي عشرة. وقال: كلوا، وأخرج لهم شيئا من بين أصابعه فأكلوا حتى شبعوا فخرجوا. فقال: أدخل عشرة، فأكلوا حتى شبعوا. فما زال يدخل عشرة ويخرج عشرة حتى لم يبق منهم أحد إلا دخل فأكل حتى شبع ثم هيأها فإذا هي مثلها حين أكلوا منها.

“Daripada Anas Bin Malik r.a, katanya: Abu Talhah mengutusku kepada Rasulullah untuk memanggilnya makan. Katanya: Aku menemui Rasulullah ketika Baginda bersama orang ramai, lalu Baginda memandangku, aku pun rasa malu lalu aku katakan: Sahutlah jemputan Abu Talhah. Baginda lalu berkata: “ayuh (semua)”. Abu Talhah berkata: Wahai Rasulullah aku cuma sediakan makanan yang sedikit untukmu. Maka Baginda pun menyentuh makanan tersebut dan mendoakan keberkatan untuknya lalu bersabda: “Masuklah sepuluh orang” lalu mengatakan: “Makanlah”. Baginda menyenduk makanan keluar daripada jari jemarinya, lalu mereka pun makan sehingga kenyang kemudian mereka keluar. Kemudian Baginda berkata: “Masuklah sepuluh lagi”. Mereka pun makan sehingga kenyang. Perkara ini berterusan sepuluh-sepuluh orang sehingga semua kenyang. Kemudian Baginda menyimpan makanan tersebut sedang isinya sama seperti ketika mereka makan tadi (banyaknya) – Riwayat Muslim

Peristiwa ini berlaku ketika Abu Talhah mendengar suara Rasulullah ﷺ agak lemah dan beliau tahu bahawa itu petanda bahawa sebenarnya Rasulullah ﷺ sedang rasa lapar lalu beliau pun memberitahu kepada isterinya supaya sediakan makanan buat Rasulullah ﷺ. Makanan yang mereka miliki hanyalah sedikit. Maka beliau meminta Anas Bin Malik r.a menjemput Rasulullah ﷺ untuk makan di rumahnya. Ketika itu Baginda berada di masjid bersama sahabat-sahabat yang lain. Lalu Baginda mengajak mereka semua ikut sekali. Perkara itu mengejutkan Abu Talhah kerana makanan yang disediakan tidak cukup untuk semua sahabat, hanya untuk Baginda. Namun apabila Baginda masuk ke rumah Abu Talhah, Baginda meminta para sahabat masuk makan di dalam rumah secara bergilir-gilir seramai sepuluh orang lalu mengagihkan makanan kepada mereka sehingga semua mereka kenyang. Jumlah mereka ketika itu seramai 70 atau 80 orang. 

InsyaAllah dengan lebih mengetahui pelbagai mukjizat yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.

——————————————————————————————————————————

Abdul Rahman Rahuni

Ustaz Abdul Rahman Rahuni. Penulis merupakan graduan Universiti Islam Madinah menuntut dalam bidang Syariah Islamiah. Kini beliau merupakan tenaga pengajar di Sekolah Menengah Ugama Islamiah, Tawau Sabah.

Unmasking the Prophet of Islam

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Verily in the messenger of Allah ye have a good example for him who looketh unto Allah and the Last Day, and remembereth Allah much.”

[Surah Al-Ahzab, 33:21]

As human beings, we cannot help but wonder, and may at times seek to find, visual depictions of the last messenger of Allah, Prophet Muhammad ﷺ. After all, Prophet Muhammad ﷺ, also known as Abū al-Qāsim Muḥammad ibn ʿAbd Allāh ibn ʿAbd al-Muṭṭalib ibn Hāshim, continued to play a pivotal role in the spread of Islam and was a historical figure who lived till 632 CE. 

The Quran does not explicitly spell out the banning of such depictions; however, there are serious considerations to be taken into account such as the prevention of potential idolatry based on the long line of prophets who are infallible human beings, not perfect beings themselves.

Although we can find depictions of Prophet Muhammad ﷺ, for instance dating back to the 1300s, these images need to be contextualised to avoid any misunderstandings from arising. It encapsulates visual representations, not literal depictions, restricted to elites of that particular time period in private and exclusive settings — images in connection to specific Islamic occurrences, such as Isra and Mi’raj (the Night Journey and ascension to Heaven).

Bright Like The Moon: His Reflection In Us

What was Prophet Muhammad ﷺ really like?

Certain physical descriptions could be gleaned, such as his skin tone and physical beauty. As narrated by Anas bin Malik:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي الْمَسْجِدِ، دَخَلَ رَجُلٌ عَلَى جَمَلٍ فَأَنَاخَهُ فِي الْمَسْجِدِ، ثُمَّ عَقَلَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مُتَّكِئٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ‏.‏ فَقُلْنَا هَذَا الرَّجُلُ الأَبْيَضُ الْمُتَّكِئُ‏.‏

While we were sitting with the Prophet ﷺ in the mosque, a man came riding on a camel. He made his camel kneel down in the mosque, tied its foreleg and then said: “Who amongst you is Muhammad?” At that time the Prophet ﷺ was sitting amongst us (his companions) leaning on his arm. We replied, “This white man reclining on his arm.”

[Sahih al-Bukhari 63]

According to Isma`il bin Abi Khalid:


حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جُحَيْفَةَ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ ـ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ ـ يُشْبِهُهُ قُلْتُ لأَبِي جُحَيْفَةَ صِفْهُ لِي‏.‏ قَالَ كَانَ أَبْيَضَ قَدْ شَمِطَ‏.‏ وَأَمَرَ لَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِثَلاَثَ عَشْرَةَ قَلُوصًا قَالَ فَقُبِضَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَبْلَ أَنْ نَقْبِضَهَا‏.‏

I heard Abii Juhaifa saying, “I saw the Prophet, and Al-Hasan bin `Ali resembled him.” I said to Abu- Juhaifa, “Describe him for me.” He said, “He was white and his beard was black with some white hair. He promised to give us 13 young she-camels, but he expired before we could get them.”

[Sahih al-Bukhari 3544]

Narrated Anas:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيرِ، وَلاَ بِالأَبْيَضِ الأَمْهَقِ، وَلَيْسَ بِالآدَمِ وَلَيْسَ بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ وَلاَ بِالسَّبْطِ، بَعَثَهُ اللَّهُ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ، وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ، فَتَوَفَّاهُ اللَّهُ، وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ‏.‏

Allah’s Messenger (ﷺ) was neither very tall nor short, neither absolutely white nor deep brown. His hair was neither curly nor lank. Allah sent him (as an Apostle) when he was forty years old. Afterwards he resided in Mecca for ten years and in Medina for ten more years. When Allah took him unto Him, there was scarcely twenty white hairs in his head and beard.

[Sahih al-Bukhari 3548]

Jabir ibn Samura said:

حَدَّثَنَا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْثَرُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ أَشْعَثَ يَعْنِي ابْنَ سَوَّارٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ‏:‏ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فِي لَيْلَةٍ إِضْحِيَانٍ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَمَرِ، فَلَهُوَ عِنْدِي أَحْسَنُ مِنَ الْقَمَرِ‏.‏

“I saw Allah’s Messenger (Allah bless him and give him peace) on a cloudless night, and he was wearing a red suit of clothes, so I started looking at him as well as at the moon, for he is indeed more beautiful, in my opinion, than the moon!”

[Ash-Shama’il Al-Muhammadiyah 10]

Inner Beauty in Praise of Allah

Though we can find some descriptions scattered all over hadiths, what has truly compelled millions of Muslims to emulate him and non-Muslims alike, including his foes during the struggle for the spread of Islam to respect him at the very least, for generations? It has always been his grace and excellence of character. Superficiality is not what is at the core of Islam.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

And lo! thou art of a tremendous nature.

[Surah Al-Qalam 68:4]

As evident from the above-mentioned verse from the Quran, the Prophet had a beautiful soul that was complimented. In addition to that, it was tied to actions, for example choice of clothing, as a display of our gratitude towards Allah. As narrated by Qays ibn Bishr at-Taghlibi:

فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏: إِنَّكُمْ قَادِمُونَ عَلَى إِخْوَانِكُمْ فَأَصْلِحُوا رِحَالَكُمْ وَأَصْلِحُوا لِبَاسَكُمْ حَتَّى تَكُونُوا كَأَنَّكُمْ شَامَةٌ فِي النَّاسِ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلاَ التَّفَحُّشَ ‏

He said: I heard the Messenger of Allah ﷺ say: You are coming to your brethren; so tidy your mounts and tidy your dress, until you are like a mole among the people. Allah does not like obscene words or deeds, or do intentional committing of obscenity.

[Sunan Abi Dawud 4089]

Narrated `Abdullah bin `Amr:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، عَنْ أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُولُ ‏ “‏ إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا ‏”‏‏.‏

The Prophet (ﷺ) never used bad language neither a “Fahish nor a Mutafahish. He used to say “The best amongst you are those who have the best manners and character.” (See Hadith No. 56 (B) Vol. 8)

[Sahih al-Bukhari 3559]

The message is clear. Physical beauty though admirable and pleasing to the eyes is not prioritised over spiritual piety and excellence of character that buttress one’s faith and devotion which belong to the one and only Allah.

Written by: Helmy Sa’at

Bagaimana Menentukan Arah Kiblat pada tahun 624 M dan Sekarang

Masjid Qiblatain: Masjid Dua Kiblat

Zuhur pada 15 Sya’ban 2 H (Februari 624 M) di Madinah telah mengubah sejarah. Sebuah ujian keimanan dan momen ketaatan telah mengalihkan fokus dari Yerusalem ke Mekkah. Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ di tengah salatnya untuk menghadap ke arah kiblat yang sebenarnya, Ka’bah. 

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.

[QS. Al-Baqarah 2:144]

Perintah perubahan kiblat disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Ayat [Al-Baqarah:144], [Al-Baqarah:149] dan [Al-Baqarah:150]. Peristiwa ini menimbulkan reaksi kritis dan keraguan baik di kalangan umat islam kala itu maupun di komunitas umat lainnya. Umat Muslim memiliki arah kiblat yang sama dengan orang Yahudi dan Kristen. Hanya segelintir umat islam yang mengubah arahnya sesuai dengan yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. 

Masjid Qiblatain, salah satu masjid tertua dalam sejarah Islam telah berulang kali mengalami pemugaran dan hingga kini memiliki dua mihrab, satu menghadap ke Baitul Maqdis dan satunya lagi menghadap ke Baitullah. Mihrab yang menghadap ke Baitul Maqdis telah ditutup. Dari seluruh penjuru dunia, umat Muslim beribadah dengan menghadap arah yang sama, yakni ke arah Baitullah.

Bagaimana Cara Menentukan Arah Kiblat?

Ini adalah keajaiban Ilahi melalui sang Nabi ﷺ. Namun masih ada pertanyaan dalam benak kaum Muslimin: bagaimana cara mengetahui arah kiblat? Ajaran Islam mulai menyebar luas ke seantero Arab Saudi, Afrika, dan Tiongkok, membangun berbagai masjid megah dengan metode-metode unik dalam menentukan arah kiblat. 

Dua Utara

Untuk memahami penentuan arah kiblat, kita perlu tahu bahwa arah Utara yang kita lihat di kompas bukanlah merupakan satu-satunya Utara. 

  1. Utara Sejati: Utara Sejati adalah posisi geografis tetap pada permukaan Bumi di Kutub Utara.
  2. Utara Magnetik: Utara Magnetik ditentukan oleh medan magnet Bumi dan selalu berubah. 

7 Metode Kuno dan Modern dalam Menentukan Kiblat

1. Bintang Kutub Utara / Polaris

Polaris atau Bintang Kutub Utara berada kurang dari satu derajat di atas kutub langit Utara. Polaris itu mengelilingi kutub utara dalam diameter kecil 0,53°. Posisi tetap dari bintang terang ini menjadikannya alat navigasi yang baik sejak zaman dahulu kala. Jika dapat menemukan bintang Kutub, Anda dapat mengetahui ke arah mana Anda menghadap kiblat tanpa bantuan kompas.

2. Matahari

Cara termudah mengetahui mata angin adalah dengan memantau pergerakan matahari. Ini tidak sepenuhnya akurat karena posisi matahari berubah sepanjang musim. Tetapi ini memang dapat memberi estimasi arah untuk menghadap Ka’bah. 

3. Pengamatan Bayangan

Terdapat dua hari setiap tahunnya, lebih tepatnya antara 27 atau 28 Mei dan 15 atau 16 Juli. Sebuah fenomena astronomi, dimana Matahari berada tepat di atas Mekkah pada siang hari, menyebabkan bayangan objek vertikal jatuh ke arah kiblat. Jadi jika Anda berdiri di bawah matahari, bayangan Anda akan jatuh ke arah kiblat. 

4. Lingkaran India

Metode ini memerlukan nilai garis lintang dan garis bujur dan membaca bayangan yang dihasilkan matahari di lokasi tertentu. Evaluasi Arah Kiblat berdasarkan pada perbandingan koordinat Mekkah, serta lokasi yang darinya arah kiblat perlu ditentukan. Ini menarik; temukan koordinat kota Anda lalu bandingkan dengan bagan di bawah ini untuk menentukan arah kiblat Anda. 

Metode Lingkaran India untuk menentukan arah kiblat.

 

Garis lintang dan garis bujur Mekkah adalah 21° dan 38°. Sebagai contoh, garis lintang dan garis bujur Singapura adalah 1,3° and 103°.

Karenanya, saat dibandingkan dengan koordinat Mekkah (lihat bagan di atas), arah kiblatnya adalah Barat Laut. Untuk memastikan, coba bandingkan arah kiblat Anda dengan fitur Kiblat di aplikasi Muslim Pro. beritahu kami lewat komentar jika Anda dapat menemukannya!

5. Kompas

Penemuan kompas adalah sebuah pencapaian dalam bidang studi geografi. Beberapa tipe kompas dibagi menjadi dua kategori luas: magnetik dan giroskop.

KOMPAS MAGNETIKGIROKOMPAS
Sebuah jarum atau kartu mengarahkan dirinya ke kutub magnet bumi sejajar dengan medan magnet bumi.
– Kompas Nahkoda
– Kompas GPS
– Kompas Solid State
Sebuah kompas non magnetik yang mempertahankan arah Kutub berdasarkan rotasi poros bumi.
– Girokompas didayai oleh listrik dan banyak digunakan di kapal-kapal. 

Kompas Astro digunakan di wilayah kutub, karena disana kompas magnetik dan girokompas tidak berfungsi dengan baik. Ini memberi pembacaan akurat berdasarkan waktu dan posisi geografis.  

6. Trigonometri Bola

Trigonometri membantu mengkalkulasi sudut dan jarak tak diketahui dari sudut diketahui atau terukur dalam angka-angka geometris. Karenanya, fungsi trigonometri membantu mengkalkulasi derajat garis lintang dan garis bujur.

Selisih antara Utara Sejati dengan Utara Magnetik memberi kita Deklinasi Magnetik. Untuk menentukan arah kiblat dengan benar, kita harus dapat mengukur derajat garis lintang dan garis bujur lokasinya. Utara Magnet selalu berubah, demikian pula deklinasinya. Saat sebuah kompas diletakkan di atas permukaan datar, itu akan menunjuk ke arah Utara Magnetik. 

Karenanya, untuk secara akurat mengarah ke kiblat, kita harus mengganti dan mengubah sudut kiblat sesuai koordinat melalui kalkulasi trigonometri.  

7. GPS

Sistem Pemosisi Global (GPS) secara akurat menentukan lokasi geografis di mana pun di dunia. Ada banyak fungsi lainnya dari sistem ini. Fungsi terpenting adalah menavigasi lokasi dan waktu. Siapa pun yang memiliki penerima GPS dapat menggunakan sistem ini. 

Sejak 2018, semua ponsel memiliki chip GPS yang tertanam di dalamnya. Karenanya hidup kini jauh lebih mudah.  

Metode Teknologi

Seribu empat ratus tahun lalu, Allah memerintahkan utusannya untuk menghadap ke arah baitnya dan berdoa. Perubahan itu terjadi begitu cepat, antara 4 rakaat salat. Tidak ada pembahasan bersama kartolog untuk mengetahui seberapa jauh Nabi Muhammad harus berputar untuk menghadap ke Mekkah. Ini sungguh sebuah keajaiban.

Hanya saja, geoinformatika, sebuah ilmu baru yang menggali dan mempelajari berbagai aspek dari geografi dan sains bumi, mengizinkan individu seperti kita salat dengan menghadap arah yang benar. Kemajuan teknologi telah menyederhanakan metode penentuan arah kiblat untuk kita. Kompas Digital dan GPS yang terdapat pada ponsel dan tablet menjadikan pencarian arah kiblat nyaris akurat dan amat mudah.

Jadi jika Anda memiliki ponsel, internet, air bersih, tempat bersih, serta niat untuk salat, Anda akan mampu mengetahui arah yang benar ke Baitullah. Baiknya lagi, cukup ketikkan ‘masjid terdekat’ di kolom pencarian; kita punya teknologi ditangan kita, mari gunakan untuk lebih dekat dengan Allah!

Ditulis oleh Farida Haji

“Je Le Veux” : Manœuvrer La Relation Entre Mari et Femme

Un garçon rencontre une fille. 

Ils tombent amoureux et se marient. 

Et, ils vécurent heureux pour toujours.

En résumé, voilà notre conception du mariage. Ceci est cependant une vision simpliste de la relation. La relation entre deux individus ne doit pas se retrouver dans l’impasse après le mariage, car elle évolue constamment. Vous devez entretenir votre relation amoureuse et engagée tout au long de votre vie en y impliquant activement votre conjoint(e) sans vous fier seulement à ce premier regard furtif qui a accéléré votre rythme cardiaque.

Qu’adviendra-t-il donc après le mariage suivi de la lune de miel et de la vie commune ? Comme dans chaque relation, vous devez vous efforcer de jouer votre rôle de mari ou de femme. Vous devez toujours vous préoccuper non seulement de vos besoins, mais aussi des besoins affectifs de votre partenaire. Cela contribue à bâtir solidement une unité familiale saine ancrée par deux individus qui ont choisi de parcourir ensemble le chemin de la vie jusqu’au Jannah, inchaAllah.

Partenaire, pas propriété

Il est fondamental de comprendre que le mariage ne consiste pas avant tout à satisfaire un arrangement biaisé qui profite largement au mari. Les deux parties doivent comprendre qu’il faut se compléter et se soutenir mutuellement. La femme mérite autant d’amour, de respect et d’attention de la part de son mari et vice versa.

Cela est manifeste dans le verset suivant du Coran, Allah SWT déclare que :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ

« Les femmes ont des droits, équivalents à leurs obligations, et conformément à l’usage. Les hommes ont cependant une prééminence sur elles. »

[Sourate Al-Baqarah 2:228]

Communication : Écouter, ne pas se limiter à entendre

La communication est la pierre angulaire d’une relation forte, saine et amoureuse. Vous ne devez pas primer tout le temps, même si votre conjoint(e) est la caisse de résonance la plus fiable que vous puissiez trouver dans votre vie. Il est de votre responsabilité d’assurer que chacun puisse partager et exprimer de manière équitable ses préoccupations, ses problèmes et ses sentiments à l’autre sans craindre des représailles.

Pour une bonne communication, il ne suffit pas de fournir des réponses réciproques toutes faites telles que « je t’entends », mais il faut être sincère dans l’acte même d’écoute. Ensuite, vous devez travailler comme une équipe pour résoudre un problème ou gérer une préoccupation que vous auriez pu ignorer, en tant qu’époux ou épouse. 

De plus, pour parvenir à la franchise entre mari et femme, il faut constamment s’encourager à être vulnérable et honnête devant l’autre à propos de ses sentiments et même de ses problèmes. Commencez toujours par reconnaître les sentiments de l’autre et faites preuve d’empathie.

Il y aura des moments de désaccord. C’est inévitable. Il est essentiel de rester calme et de maintenir ouvert le canal de communication. Ce n’est pas une faiblesse de reconnaître son erreur et de demander pardon en plus de s’efforcer à la corriger pour éviter qu’elle ne se répète. Faites toujours attention aux choses que vous dites lors de vos disputes.

Ne comparez jamais votre partenaire aux autres. C’est non seulement blessant, mais aussi une preuve manifeste de votre incapacité à accepter et à comprendre la personnalité, le caractère ainsi que les préférences uniques de chaque individu.

Est-ce que tu m’aimes toujours ?

Dans la oumma, nous sommes tellement occupés par le travail que nous avons tendance à oublier d’accorder la priorité à nos besoins affectifs ou même aux sentiments de notre épouse. Être sollicité de plusieurs côtés n’est pas une excuse pour négliger les sentiments de votre épouse, au quotidien. N’ayez pas honte de vous exprimer. Exprimez votre amour et votre gratitude à travers des mots simples : je t’aime. Ce sont des mots qui rassurent. Cela ne coûte pas rien de prononcer des mots aussi affectueux qui proviennent de l’amour que vous ressentez l’un pour l’autre et qui coule déjà dans vos veines. 

Associez ces mots à ceci : embrassez votre femme avant de quitter la maison pour le bureau ou en rentrant du travail, voire les deux ! C’est une sunna. Qui d’autre que le Prophèteﷺ lui-même pour en donner l’exemple ?

Prends ma main

Il n’est ni possible ni réaliste de passer chaque minute ensemble. Vous pouvez cependant passer du temps ensemble et une des meilleures occasions est la prière, particulièrement la prière d’Al-Fadjr et celle d’As-Sobh. C’est l’occasion idéale pour passer du temps de qualité en plus d’accomplir une partie de vos obligations religieuses quotidiennes avant de partir travailler ou exécuter d’autres tâches familiales habituelles. 

En outre, vous devriez programmer des rendez-vous en amoureux selon vos disponibilités. Au moins une fois par semaine, sinon une fois par mois, pour commencer. L’objectif n’est pas seulement de partager un repas, mais de vous consacrer quelques heures pour passer du temps de qualité ensemble, loin du travail et des tâches ménagères. C’est une occasion pour renouer le contact.

Évitez cependant de vous mettre la pression. Il n’est pas nécessaire de faire un grand geste à chaque rendez-vous, ou de vous adonner au luxe comme par exemple, dîner dans un restaurant cinq étoiles qui pourrait vous ruiner. Plus important encore, participez à des activités que vous apprécierez tous les deux. Cela peut être tout et n’importe quoi. Vous pouvez assister à un cours d’art ou de cuisine ou encore faire du sport, pour oublier le stress. Variez les activités sur une base hebdomadaire ou mensuelle pour ne pas tomber dans la monotonie.

Le mariage n’est pas une île

Votre mariage a été béni par la famille et les amis. Ils peuvent également servir de soutien en cas de besoin. 

Comme l’a dit Aïcha :

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَمَا بِي أَنْ أَكُونَ أَدْرَكْتُهَا وَمَا ذَاكَ إِلاَّ لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَهَا وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ فَيَتَتَبَّعُ بِهَا صَدَائِقَ خَدِيجَةَ فَيُهْدِيهَا لَهُنَّ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ ‏.‏

« Jamais je n’ai éprouvé de jalousie envers une femme du Prophète autant que j’en ai éprouvé à l’égard de Khadîjah. Pourtant, je ne l’ai jamais vue, mais il l’évoquait si souvent. Parfois, il égorgeait une brebis, il la découpait en plusieurs morceaux qu’il envoyait comme don aux anciennes amies de Khadîjah. »

[Jami’ at-Tirmidhi, non. 2017]

Ainsi, c’est une sunna de bien traiter la famille et les amis de votre femme, et vice versa.

La relation maritale est une bénédiction. Le mariage nous a permis de trouver un partenaire, nous devons donc être reconnaissants et nous efforcer de le protéger et de l’entretenir tout au long de notre vie.

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Et parmi Ses signes Il a créé de vous, pour vous, des épouses pour que vous viviez en tranquillité avec elles et Il a mis entre vous de l’affection et de la bonté. Il y a en cela des preuves pour des gens qui réfléchissent. 

[Sourate Ar-Rum 30:21]

Le mariage est une conversation qui dure toute une vie. N’oubliez jamais que vous et votre conjoint(e) seuls pourrez assurer votre bonheur conjugal.

Auteur : Helmy Sa’at

S’Enrichir des Paroles Écrites : Habitudes de Lectures Saines

La lecture est indispensable à toute personne à la recherche de connaissance. Heureusement, nous ne serons jamais à court de choix en matière de livres. On estime que le marché mondial du livre devrait passer de 87,92 à 92,68 milliards de dollars entre 2020 et 2021. Ce chiffre devrait atteindre 124,2 milliards de dollars d’ici 2025. Ce qui est encore plus impressionnant, c’est qu’il y a déjà environ 1,5 million de nouveaux ouvrages publiés dans le monde, rien que cette année.

Qu’il s’agisse de se rendre à la bibliothèque locale, de parcourir la large gamme de livres en librairie pour un achat réfléchi, de télécharger un ouvrage en ligne d’un simple clic ou même de faire un geste en offrant ou en prêtant nos livres préférés à un ami ou à un collègue, il existe une multitude de façons et de motivations de mettre la main sur un livre qui nous intéresse. 

L’une des principales choses à prendre en considération, en tant que musulman tourné vers l’international dans un monde en évolution constante, est l’intention. Lorsque nous approfondissons nos connaissances religieuses, en particulier le tawheed, c’est-à-dire l’unicité de Dieu, en plus de l’apprentissage séculaire, nous ne nous contentons pas d’exercer la foi, mais cherchons activement à apprendre pour comprendre véritablement et renforcer notre piété spirituelle tout en élargissant notre ouverture d’esprit. Comme l’illustre le verset suivant :

شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُو۟لُوا۟ ٱلْعِلْمِ قَآئِمًۢا بِٱلْقِسْطِ ۚ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Dieu est témoin qu’il n’y a pas d’autre dieu que Lui, tout comme les anges et ceux qui ont la connaissance. Il fait respecter la justice. Il n’y a pas d’autre dieu que Lui, le Tout-Puissant, le Sage.

[Sourate Ali ‘Imran 3:18]

Avec une telle clarté de pensée comme pilier, penchons-nous sur quelques bonnes habitudes de lecture que nous pourrions facilement mettre en œuvre au quotidien dans et en dehors de la sphère religieuse de la connaissance.

Au-delà des apparences

Tout d’abord, abordons le sujet brûlant : beaucoup de gens se plaignent de deux choses en général. Premièrement, le désintérêt pour la lecture. Deuxièmement, le manque de temps. Ne vous laissez pas intimider par un ouvrage alambiqué ou une couverture de livre pompeuse (ou l’inverse). Le dicton « il ne faut pas se fier aux apparences » s’applique ici. Donnez une chance au livre. Et, plus important encore, donnez-vous une chance. Un livre anodin au titre inintéressant pourrait vous surprendre. Vous pourriez apprendre une chose ou deux. 

Ensuite, commencez modestement. Vous n’êtes pas tenu de finir de lire un chapitre ou le livre complet en 24 heures. S’il est bon de se discipliner et de se fixer un objectif, il faut éviter de s’exposer d’emblée à l’échec. Commencez plutôt par un objectif d’une ou deux pages par jour. Vous n’êtes pas obligé de finir de le lire s’il n’est vraiment pas à votre goût – au moins, vous aurez essayé. Félicitez-vous, recommandez le livre à quelqu’un d’autre puis choisissez un autre livre pour vous-même.

Ce n’est qu’une question de temps avant que vous ne tombiez sur un livre qui changera votre vie.

Du macrocosme au microcosme

Ensuite, dressez une liste de livres pour vous aider à affiner votre recherche. Cela vous permettra de ne pas vous sentir dépassé par la liste apparemment infinie d’œuvres que vous pourriez lire à tout moment. Commencez d’abord par vous intéresser à un centre d’intérêt. Travaillez selon ce principe : du macrocosme au microcosme. Par exemple, votre domaine d’intérêt pourrait être l’histoire (aspect macro) ; approfondissez un peu en examinant la géographie (aspect micro) et, peut-être, votre domaine d’intérêt pourrait très bien être l’histoire de Bali parce que vous aviez visité l’île avant la pandémie. Élargissez et étoffez facilement dans votre recherche en la liant à vos expériences personnelles.

Faire le bien par la lecture

Au lieu de passer à la caisse avec votre panier en ligne débordant de livres qui doivent être livrés ou expédiés dans cinq à sept jours, pourquoi ne pas vous rendre dans une librairie d’occasion ou soutenir une entreprise en ligne qui vend des livres donnés pour soutenir des organisations caritatives ou des entreprises sociales afin d’améliorer la vie des plus défavorisés ? Qu’accomplissons-nous en faisant cela ? Nous faisons de bonnes actions en aidant une cause charitable qui aide les autres dans le besoin. Deuxièmement, nous faisons preuve d’écologisme et protégeons l’environnement en réutilisant des livres en bon état au lieu de les laisser partir à la décharge. Troisièmement, nous faisons de bonnes affaires grâce aux prix bon marché. Cela nous donne la possibilité d’attribuer ces économies réalisées à d’autres causes, si nous le souhaitons.

Donnez-vous la priorité !

Trouvez un endroit calme, loin de la télévision et des appareils mobiles (sauf si vous lisez un e-book !). Tenez-vous à l’écart de toutes les autres tentations, comme des encas trop nutritifs qui peuvent nuire à votre concentration. Ne sous-estimez jamais l’importance de l’ambiance : il s’agit de créer une atmosphère propice à une lecture ininterrompue et de créer une expérience agréable qui mérite d’être répétée. Faites attention à votre posture – un bon soutien du dos permet d’éviter les maux de cou et de dos.

Soyez actif en ligne

Lorsque vous avez enfin terminé un livre, ne vous en détachez pas totalement aussitôt. Parlez-en, écrivez à son sujet et partagez les éléments importants sur les réseaux sociaux. C’est une excellente occasion de vous faire de nouveaux amis en ligne selon vos centres d’intérêt ou votre liste de lecture. Cela pourrait même vous amener à avoir un(e) partenaire de lecture si rejoindre un club de lecture vous semble trop démodé.

Il n’y a pas d’étapes fixes à suivre pour prendre de bonnes habitudes de lecture. C’est à vous de décider de la meilleure voie à suivre pour vous et de partager vos connaissances avec les autres. C’est à vous de choisir ce qui vous convient le mieux.

Rédigé par : Helmy Sa’at

Le Coran En Mains, Comprendre Son Histoire

Le Coran a fait et continuera de faire partie de notre vie quotidienne jusqu’à notre dernier souffle sur cette terre. Le livre sacré, ayant une importance centrale dans nos vies, a toujours été accessible sous sa forme physique. L’avènement de la technologie a étendu son accessibilité à tous ceux qui disposent d’une connexion Internet.

Ainsi, consciemment ou non, nous avons longtemps tenu pour acquis ce que nous avons dans nos mains. Mais les 114 chapitres (sourates) auxquels nous pouvons facilement accéder via nos téléphones portables dans notre application, comme Muslim Pro, ne sont pas apparus sur nos genoux en un tournemain. Cela aura été un long processus ; un effort collectif de l’oumma d’une autre génération qui, avec détermination, nous a permis, à plus de 1,5 milliard de musulmans de l’oumma mondiale d’aujourd’hui, d’être bénis d’une telle récompense.

Cependant, combien d’entre nous seraient capables de réellement mémoriser son ensemble, au-delà des exigences de base que requièrent nos prières quotidiennes ?

C’est là que la compréhension et l’apprentissage de son histoire aident à éclairer et à approfondir notre connaissance, ce qui ne peut que renforcer notre appréciation du Coran.

Il a été révélé pour la première fois au Prophète Muhammad en 610 EC. Comment le prophète a-t-il pu continuer alors sa prédication, basée sur la parole d’Allah SWT, jusqu’à son décès en 632 EC, sans ce à quoi nous nous sommes habitués aujourd’hui – le livre saint ?

Ce que nous devons garder en tête, c’est que le contexte historique est la clé pour comprendre les complications liées à la compilation du livre saint. À cette époque, l’alphabétisation n’était pas une compétence courante. Ainsi, ces révélations ont plutôt été mémorisées, dans le respect des traditions orales alors largement imprégnées. Néanmoins, il existait tout de même quelques enregistrements disparates de sourates sur des matériaux allant des morceaux de cuir aux feuilles de palmier.

Par la suite, le calife Abu Bakr a joué un rôle central dans l’accélération de la compilation du livre saint. Lorsque 70 personnes capables de réciter le Coran par cœur ont été tuées lors de la bataille de Yamama, l’urgence de produire une compilation s’est fait sentir. De la collecte des vers écrits aux récitations par les compagnons, commença ainsi le processus, long et ardu, mais bien nécessaire – de vérification qui soulevait des questions telles que les dialectes et les prononciations – et de la compilation.

Avec prévoyance, les anciennes copies ont été détruites ; il s’agissait d’éviter que surgissent des conflits fondés sur des disputes. Plus tard, vers 650 EC, le calife Uthman a envoyé la version officielle à diverses villes pour qu’elle soit copiée. Par conséquent, les générations suivantes jusqu’à aujourd’hui sont aptes à vivre selon la parole de Dieu, en partie grâce à l’effort des musulmans de ces époques révolues.

Ne perdons plus de temps précieux et commençons à apprécier davantage et à veiller activement à ce que le Coran continue à insuffler lumière et bénédictions dans notre vie quotidienne.

Écrit par : Helmy Sa’at