Menavigasi Kesehatan Mental Sebagai Seorang Muslim

Kita telah melalui begitu banyak kesulitan selama hampir dua tahun sejak munculnya wabah yang mendunia yang bahkan hingga kini masih berlangsung – Covid-19. Ketika langkah pemulihan terus digalakan dengan dibukanya kembali aturan perbatasan fisik secara bertahap, namun bukan berarti kita terlepas dari rasa tertekan dari segi emosional karena harus menghadapi situasi pandemi ini.

Satu kekhawatiran utama yang tidak seorang pun dari kita luput dari perasaan ini yaitu timbulnya “kelelahan akibat pandemi”. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelelahan pandemi mengacu pada “orang-orang … merasa kehilangan motivasi untuk mengikuti perilaku dan kebiasaan yang baru untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari virus.” Hal ini dapat mengganggu kesehatan mental di mana kita terus-menerus berjuang melawan perasaan dan emosi negatif yang dapat dengan mudah menguasai kita. Perasaan ini juga yang berpotensi menyeret kita dalam gelombang kegelapan dan depresi, jika kita tidak tetap waspada terhadapnya.

Kembali ke Dasar

Kita seorah ditarik ke berbagai arah berdasarkan peran dan tanggung jawab keluarga dan sosial yang kita miliki. Sebelum kita mampu menjaga orang lain sepenuhnya, kita perlu memastikan bahwa kita baik-baik saja. Mulailah dari yang kecil, dengan memperhatikan kebiasaan kita sehari-hari.

Ikuti kebiasaan diet seimbang. Berolahraga secara teratur. Dapatkan tidur yang cukup. Pernah mendengar semua petuah sebelumnya? Sebagai seorang Muslim, kita mungkin juga mendengar nasihat lainnya, walaupun kebanyakan tanpa kita ketahui/mengerti alasan di baliknya seperti: Berwudhu sebelum tidur, terutama ketika kita susah tidur dan dianjurkan tidur menghadap ke kanan.

Nasihat tersebut bermula dari teladan kebiasaan tidur Nabi Muhammad ﷺ Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bara’ bin `Azib:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu, aku memohon ampunan-Mu dan auk bertaubat kepada-Mu, aku Beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kupada Nabi yang Engkau utus.”

[Sahih Bukhari, no. 247]

Sempurnakan rutinitas sebelum tidur dengan doa-doa berikut – Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas. Seperti yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Rasulullah SAW apabila hendak beranjak ketempat tidurnya setiap malam, Beliau menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniupkan keduanya dan membacakan keduanya surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Kemudian beliau mengusap dengan keduanya bagian mana saja semampunya. Beliau memulainya dari atas kepala dan wajahnya serta bagian belakang dari badannya. Beliau melakukan perkara itu tiga kali.” (HR. Muslim)

Mari Bicara Tentang Diri Sendiri

Ini adalah langkah pertama untuk memelihara pikiran yang sehat. Bicaralah dengan teman, tulis di buku harian Anda atau bagikan kisah inspiratif Anda di sosial media. Lepaskan semua beban dengan mengutarakan “unek-unek” yang ada dalam pikiran Anda. Biasanya langkah pertama adalah yang paling sulit untuk memulai, namun percayalah proses itu sangat berharga. Bantulah diri kita sendiri dengan mengangkat sebagian beban emosional dari pundak kita yang telah menguras emosi dan kekuatan fisik yang dipendam begitu lama.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah diidentifikasi WHO sebagai salah satu strategi utama dalam memerangi kelelahan akibat pandemi: Mengakui dan mengatasi kesulitan. Temukan kelompok yang mendukung pengembangan diri Anda di komunitas lingkungan sekitar Anda. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita alami bisa jadi sangat unik bagi setiap individu; namun, pengalaman seperti itu mungkin juga dimiliki oleh orang lain secara global yang melintasi batas-batas fisik dan budaya.

Validasi perasaan kita dan ambil langkah untuk menyembuhkan diri sendiri secara emosional. Dapatkan bantuan medis profesional, jika perlu. Kemudian perhatikan nilai positiva pada Komunitas yang menjadi “support system” untuk Anda.

Kontekstualisasikan Berkah yang Anda Rasa


Finlandia, sekali lagi, muncul sebagai negara paling bahagia di dunia. Salah satu cara ilmuwan sosial mengukur konsep kebahagiaan yang sulit dipahami adalah dengan mempelajari dukungan sosial yang berdampak pada risiko kesehatan mental berdasarkan cara pemerintah merespons krisis, khususnya saat pandemi. Salah satu alasan yang mendorong Finlandia naik sebagai Negara paling bahagia ditengah pandemi ini adalah “tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap cara penanganan pandemi COVID-19.”

Namun, ini tidak berarti bahwa setiap orang Finlandia melewatkan aktivitas mengunjungi Taman Nasional Oulanka di Kuusamo, guna menghindari depresi, misalnya. Selain sistem pendukung pemerintahan yang nyata tersebut, muncul pendapat lain yang berpendapat bahwa “seseorang harus mengalami kehidupan yang bermakna” agar benar-benar bahagia.

Kebahagiaan berakar pada kehidupan seseorang yang bermakna. Rumit? Ya. Sebuah prioritas? Ya. Dapat dicapai? Sangat memungkinkan!

Sebagai bagian dari Muslim dunia, kehadiran dan nilai dari diri kita biasanya saling terkait dengan identitas diri. Alhamdulillah, kita berkembang dalam lingkungan yang memberikan peluang untuk tumbuhan dan berkembang, tidak hanya untuk teman dan keluarga, tetapi diri kita sendiri. Temukan gairah semangat itu dan ikuti. Baik itu kesukarelaan menjadi volunteer, melukis atau belajar lebih banyak tentang Islam; tidak ada hal yang terlalu sepele jika itu bisa membuat Anda tersenyum, membawa lebih banyak kebahagiaan untuk Anda, menyegarkan jiwa dan membantu menemukan keseimbangan hidup yang tepat untuk Anda.

Kesehatan mental adalah sesuatu yang perlu kita pelihara secara terus-menerus dan jangan biarkan diri kita sendiri, dan orang lain (psst! bagikan artikel ini dengan orang lain dan ajak mereka untuk melakukan hal yang sama), tersapu oleh rutinitas kehidupan sehari-hari yang monoton. Kita berhak mendapatkan kebahagiaan melalui ketenangan pikiran agar emosi kita tetap stabil.

Ditulis oleh: Helmy Sa’at

Diterjemahkan oleh: Nerly

Menangani Kesihatan Mental Sebagai Seorang Muslim

Kita telah melalui banyak perkara selama hampir dua tahun semenjak wujudnya Covid-19.Walaupun fasa pemulihan kini sedang giat dijalankan yang mana pelbagai sektor sosial telahpun dibuka, ia tidak bermakna kita terus bebas dan tidak perlu lagi berhadapan dengan masalah emosi akibat kesan daripada pandemik yang sebenarnya masih berlarutan hingga kini.

Kita semua tidak dapat lari daripada penderitaan “keletihan pandemik”. Menurut kepada World Health Organisation (WHO), keletihan pandemik merujuk kepada “Orang…rasa tidak bersemangat untuk mengikuti langkah-langkah yang disarankan untuk melindungi diri mereka dan orang lain daripada jangkitan virus”. Pandemik sememangnya merosak kesihatan mental yang mana kita harus terus menerus berperang dengan perasaan negatif dan emosi yang mudah mempengaruhi kita. Ia berpotensi untuk menjerumuskan kita ke arah kemurungan dan kegelapan, jika kita tidak berwaspada.

Kembali Kepada Asas

Setiap daripada kita diuji dengan pelbagai ujian,berdasarkan kepada tanggungjawab kepada keluarga dan juga kepada masyarakat. Sebelum kita mampu untuk menjaga orang lain, kita seharusnya memastikan kita sihat agar kita berupaya untuk melakukannya. Mulakan sedikit demi sedikit, dengan tabiat harian kita.

Mematuhi diet seimbang. Bersenam secara berkala. Dapatkan tidur yang mencukupi. Pernah dengar semuanya? Sebagai seorang Muslim, kita juga akan mendengar nasihat tambahan, kebanyakan tanpa mengetahui alasan di sebaliknya: Berwudhuk sebelum tidur, terutama ketika menghadapi kesulitan, dan tidur menghadap ke kanan.

Daripada al-Bara’ bin ‘Azib R.Anhuma, katanya: Rasulullah SAW bersabda kepadaku:

إِذَا أَتَيتَ مَضْجَعَكَ فَتَوضَّأْ وضُوءَكَ لِلصَّلاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلى شِقِّكَ الأَيمَنِ، وقلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نفِسي إِلَيكَ، وَفَوَّضتُ أَمري إِلَيْكَ، وَأَلَجَأْتُ ظَهرِي إِلَيْكَ، رغبةً ورهْبَةً إِلَيْكَ، لامَلجأَ ولا مَنجي مِنْكَ إِلاَّ إِليكَ، آمنتُ بِكِتَابِكَ الذِي أَنزَلْت، وَبِنَبِيِّكَ الذِي أَرسَلتَ، فإِنْ مِتَّ. مِتَّ عَلَى الفِطرةِ، واجْعَلهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ

MaksudnyaApabila kamu datang ke tempat perbaringan, hendaklah kamu berwudhuk seperti wuduk solat, kemudian berbaring atas lambung kanan, dan berdoalah:

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نفِسي إِلَيكَ، وَفَوَّضتُ أَمري إِلَيْكَ، وَأَلَجَأْتُ ظَهرِي إِلَيْكَ، رغبةً ورهْبَةً إِلَيْكَ، لامَلجأَ ولا مَنجي مِنْكَ إِلاَّ إِليكَ، آمنتُ بِكِتَابِكَ الذِي أَنزَلْت، وَبِنَبِيِّكَ الذِي أَرسَلتَ

“Ya Allah, aku serahkan diriku pada-Mu, dan aku serahkan urusanku pada-Mu. Aku sandarkan belakangku kepada-Mu dengan penuh rasa harap dan takut kepada-Mu. Tiada tempat bersandar dan selamat selain daripada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Kamu turunkan, dan nabi-Mu yang Kamu utuskan.”

Sekiranya kamu mati, nescaya kamu mati di atas fitrah dan jadikanlah rangkuman doa ini sebagai akhir apa yang kamu baca.

Sahih al-Bukhari, no. 247

Selesaikan rutin tidur itu dengan doa berikut – Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas. Diriwayatkan oleh ‘Aisyah:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ‏{‏قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ‏}‏ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏.‏

“Setiap kali Rasulullah pergi tidur pada waktu malam, baginda akan menadah kedua belah tangan dan menghembus ke tapak tangan baginda setelah membaca surah al-ikhlas, surah al-falaq dan surah al-nas, kemudian menyapu kedua belah tangan baginda keseluruh anggota bermula dari kepala,muka dan hadapan badan. Hal ini dilakukan baginda 3 kali berturut-turut.”

[HR Bukhari 5017]

Mari Bercakap Tentang Saya

Ini adalah langkah pertama untuk memelihara minda yang sihat. Bercakap dengan rakan, tulis dalam buku harian anda atau kongsi di akaun Twitter anda. Lepaskan segala apa yang anda pendam selama ini. Biasanya langkah pertama adalah yang paling sukar untuk dimulakan, tetapi sangat berbaloi. Tolong diri kita sendiri dengan mengangkat sebilangan beban emosi itu yang telah lama memenatkan kita secara emosi dan fizikal.

Ini sejajar dengan apa yang telah dikenalpasti oleh WHO sebagai salah satu strategi utama dalam memerangi keletihan pandemi: Mengakui dan mengatasi kesulitan. Cari kumpulan sokongan dalam komuniti anda. Kita perlu sedar bahawa apa yang kita alami dapat menjadi unik bagi setiap individu; namun, pengalaman berhadapan keletihan pandemik dirasakan oleh semua orang di seluruh dunia.

Akui perasaan kita dan ambil langkah seterusnya untuk membantu diri kita untuk sembuh. Dapatkan khidmat perubatan profesional,jika perlu. Cari kumpulan sokongan yang ada di dalam komuniti anda.

Renungkan Rahmat Anda

Finland, sekali lagi, muncul sebagai negara paling bahagia di dunia. Salah satu cara para saintis sosial mengukur semua konsep kebahagiaan yang sukar difahami adalah dengan mempelajari sokongan sosial yang memberi kesan terhadap risiko kesihatan mental berdasarkan bagaimana pemerintah bertindak balas terhadap krisis, khususnya pandemik. Salah satu sebab yang mendorong Finland ke puncak adalah “kepercayaan yang tinggi terhadap cara pandemik COVID-19 ditangani.”

Namun, ini tidak bermaksud setiap warga Finland melawati ladang Taman Nasional Oulanka di Kuusamo, untuk mengelakkan kemurungan, misalnya. Selain sistem sokongan pemerintah, terdapat pendapat lain juga iaitu “seseorang harus menghargai kehidupannya” untuk benar-benar bahagia.

Kebahagiaan berakar pada kehidupan yang bermakna. Rumit? Ya. Keutamaan? Ya. Boleh dicapai? Tentunya!

Sebagai seorang Muslim hari ini, rasa diri dan nilai kita biasanya terikat dengan identiti kita. Kita berkembang dalam persekitaran yang memberikan peluang untuk pertumbuhan, bukan hanya untuk rakan dan keluarga, tetapi kita sendiri. Cari sesuatu yang kita suka. Sama ada lapangan sukarelawan, melukis atau mempelajari lebih lanjut mengenai Islam; tidak ada perkara yang terlalu remeh jika itu membuat anda tersenyum, membawa anda kebahagiaan, menyegarkan jiwa anda dan membantu dalam mencari keseimbangan yang tepat untuk anda dalam hidup.

Kesihatan mental adalah sesuatu yang kita perlu sentiasa pelihara dan jangan biarkan diri kita, dan orang lain (psst! Kongsi artikel ini dengan orang lain dan dorong mereka untuk melakukan perkara yang sama), dihanyutkan oleh kesenadaan rutin kehidupan seharian. Kita berhak mendapat kebahagiaan melalui ketenangan jiwa.

Ditulis Oleh: Helmy Sa’at

Diterjemahkan oleh: Jasmine

Salaam, We Are Muslim Pro’s Product Team!

The ‘Salaam…’ series introduces Muslim Pro team members to our more than 100 million strong audience. Get to know what we do, what we are like and how it is working for the number 1 Muslim app in the world!

What do you actually do in Muslim Pro?

It’s really a team effort to plan and manage resources to address stakeholders’ needs. First and foremost, addressing what our users around the world expect from Muslim Pro as a product on their phone or the website, and as part of their day-to-day life. It also means diving deep into the usage of our app and the overall industry within our category, in addition to seeing larger trends outside our category.

In essence, we see ourselves as diplomats; collecting and searching for the needs and problems of different groups and converting them into actionable projects and processes. At the same time, we advocate our ideas and translate them into measurable targets before we roll them out.

What does it take to be part of the team?

You must genuinely love what you do, or what you are trying to pursue. When we talk to each other in the team, we feel the high energy of wanting to make a better product for the world. To achieve that, we keep on learning, share knowledge and acknowledge gaps, or highlight something that is not right. That means we advocate our ideas and do the footwork to propose new features or designs.

It’s not about us, but about our users out there in the real world. Keep in mind that you might have very different needs when residing in Norway compared to Malaysia. 

If you are a team player, really love apps and web solutions, and want to contribute in building a product that helps millions around the world, you are very welcome at Muslim Pro.

Share with us what a typical day at work would be like?

We spend about 20 per cent of our time in meetings which means we need to prepare or recap quite a bit. Being mindful of the time, we usually plan roughly two weeks ahead while keeping an eye over our roadmap for the next two years. Since we work cross-department, there are many processes, touch points and conversations to enjoy.

We are still a very young company, so chances are that most of the things we do are first times within Muslim Pro and require new process documentation to streamline future projects. Thus, we need the flexibility to react. 

What has been the most memorable moment while being on the job?

It was prior to Ramadan 2020, when we were working on the brand new Khatam feature. We wanted to adapt the Khatam tradition and Quran reading groups into a digital form despite the COVID pandemic. We really wanted to facilitate the ummah around the world with the tools to read the Quran together as a group without the risk of spreading COVID. 

It was this dynamic cross-department work that really invigorated us. It demonstrated the open-door company style we work in. Even if you are not from the Product department, you can make an impact on the product itself, on the very stories, functionality, and content inside Muslim Pro. Potentially millions of people around the world will see your idea.

“We’re like diplomats collecting the needs and concerns of users, converting them into actionable projects and processes.”

Pablo David Cantu,
Head of Product

Describe the team in 5 words.

Diplomatic, coherent, impressive, smart, and very, very, very, very, very great to work with! It’s so good to have a multinational team that really believes in making a difference for millions of people around the world. We are compassionate and love what we do, and we want to do good from the bottom of our hearts for the ummah around the world.

محافظة على صحة عقلية كمسلم

لقد مررنا بالكثير منذ عامين تقريبا منذ ظهور التحدي الصحي العالمي الذي لا يزال – كوفيد-١٩. ومع اقتراب وتيرة الانتعاش من إعادة فتح الحدود المادية بصورة حذرة وتدريجية، لا يعني أننا نكون حريّة من مواجهة آلام عاطفية يكون من الوباء‎

من أحد شاغل رئيسي الذي لا يمكننا نكون من السالمين هو الإرهاق الوبائي. عند منظمة الصحة العالمية تشير الإرهاق الوبائي إلى “الناس … شعور بالإحباط بشأن اتباع تدابير السلامة لحماية أنفسهم والآخرين من الفيروس”. وهذا يعتد في الصحة العقلية أي: بحيث نحارب باستمرار المشاعر والعواطف السلبية التي يمكن تغمرنا بسهولة. إذا لم نكن حذرا يمكن يؤدي لنا إلى الظلام والاكتئاب

رجع إلى الأساسيات

إننا نتعلق بالاتجاهات المختلفة بنسبة إلى أدوار ومسؤوليات أسرية وأدوار مجتمعية ومسؤولية . وقبل أن نكون قادرين تماما على رعاية الآخرين في حياتنا، علينا أن نتأكد من أننا بخير. ابدأ صغيرا، بعاداتنا اليومية

التزم بحمية متوازنة. ممارسة الرياضة بانتظام. احصل على النوم كفاية. هل سمعت كل ذلك من قبل؟ كمسلم، كنا قد سمعنا أيضا مثل هذه النصائح الإضافية، غالبا دون معرفة الأساس المنطقي وراء هذه للنصيحة: تتوضأ قبل النوم، وخاصة عندما تواجه نوعا من الضيق، ونم بمواجهة يمينك‎

:وهذه النصيحة تنبع من الاقتداء بعادات نبي الله محمد ﷺ في النوم. كما ورد عن البراء بن عازب

،قال النبي ﷺ إذا أتيت مضجعك فتوضأ وضوءك للصلاة ثم اضطجع على شقك الأيمن ثم قل

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

[صحيح البخاري، حديث رقم : ٢٤٧]

:أكمل هذا الروتين النوم مع السور التالية – سورة الفلق وسورة الناس. فعن عائشة

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ‏{‏قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ‏}‏ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏.‏

[صحيح البخاري، حديث رقم : ٥٠١٧]

نتحدث عني، بشكل حقيقي

إنها الخطوة الأولى لرعاية العقول الصحية. تحدث إلى صديقيك، اكتب في مذكراتك أو شاركه على حسابك على تويتر وأبعده. وعادة ما تكون أصعب في البداية، ولكنها تستحق. ساعد أنفسنا من خلال رفع بعض الوزن العاطفي الذي يستنزفنا عاطفيا وجسديا لفترة طويلة

وهذا يتماشى مع ما حددته منظمة الصحة العالمية في إحدى الاستراتيجيات الرئيسية في مكافحة الإرهاق الوبائي: الاعتراف بالمشقة ومعالجتها. اعثر على مجموعة الدعم في مجتمعك. وعلينا أن ندرك أن ما نمر به يمكن أن يكون فريدا لكل فرد؛ ولكن هذه التجارب تتقاسمها الأمة العالمية التي تتخطى الحدود المادية والثقافية

تأكيد مشاعرنا واخذ الخطوة نحو ليشفي أنفسنا عاطفيا. احصل على المساعدة الطبية المهنية، إذا لزم الأمر. تحقق من مجموعات الدعم في مجتمعاتك

حدد سياق بركاتك

برزت فنلندا مرة أخرى كأسعد دولة في العالم. إحدى الطرق التي قاس بها علماء الاجتماع كل مفهوم بعيد المنال للسعادة هي دراسة الدعم الاجتماعي الذي له تأثير على مخاطر الصحة العقلية بناء على أساس كيفية استجابة الحكومات للأزمات، وخاصة الوباء. وأحد الأسباب التي دفعت فنلندا إلى القمة هو مستويات الثقة في التعامل مع كوفيد-١٩

ولكن، هذا لا يعني أن كل فنلندي يتخطى ميادين حديقة أولانكا الوطنية في كوسامو، على سبيل المثال. اجتناب الاكتئاب، إلى جانب نظام الدعم الحكومي الملموس، برز رأي آخر حتى ذهب القول بأنه يتعين على المرء أن يمر بحياة مجدية لكي يكون سعيدا حقا

!اإن السعادة أساس الحياة. معقد؟ نعم. أولوية؟ نعم. ممكن التحقيق؟ بالتأكيد

كمسلم عالمي في مناخ اليوم، عادة ما يرتبط إحساسنا بالوجود والقيمة بهويتنا. إننا نزدهر في بيئة توفر فرصا للنمو، ليس فقط للأصدقاء والعائلة بل لأنفسنا أيضا. اكتشف ذلك الشغف واتبعه. سواء كان العمل التطوعي أو الرسم أو تعلم المزيد عن الإسلام؛ لا يوجد شغف تافه للغاية إذا كان يجعلك تبتسم وتجلب لك السعادة وتنشط روحك وتساعد في إيجاد التوازن الصحيح لك في الحياة

إن الصحة العقلية هي شيء نحتاج إلى رعايتها باستمرار وعدم السماح لأنفسنا والآخرين (تقاسم هذه المقالة مع شخص آخر وتشجيعهم على فعل النفس!) بجرف الروتينية الرتابة للحياة اليومية. نستحق السعادة من خلال راحة البال

اسم الكاتب: حلمي سعت‎
اسم المترجمة: نور ريحانة بنت محمد نور‎

Memberi Sedekah: 5 Sebab Kenapa Islam Menggalakkannya

Sedekah merupakan salah satu perbuatan yang sangat disukai dan dianjurkan dalam Islam. Allah SWT menyebut berulang kali didalam Al-Quran bahawa amalan sedekah itu sangatlah besar, dan seharusnya dilakukan selalu.

Beramal dan berbuat baik itu termasuk menolong mereka yang memerlukan, memberi makan kepada orang miskin dan yang memerlukan, membantu anak yatim dan balu, berkongsi harta, dan berbelanja di jalan Allah. Amal yang dikenali sebagai sedekah adalah harus, ianya tidak wajib seperti memberi zakat. Bersedekah tidak semestinya dari segi kewangan sahaja. Cukup sekadar tersenyum kepada orang asing di jalan atau berkongsi ilmu yang kita ada.

Berikut adalah lima sebab mengapa Islam mengalakkan kita untuk bersedekah:

Sifat Orang Beriman

Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan salah satu sifat orang yang beriman. Di permulaan Surah Al-Baqarah, Allah berfirman mengatakan bahawa Qur’an adalah petunjuk bagi mereka yang beriman, kemudian Allah menerangkan ciri-ciri hambaNya yang soleh, mereka ialah “yang percaya kepada yang ghaib, mendirikan solat, dan membelanjakan dari apa yang telah Kami sediakan untuk mereka.”

Manakala, dalam Surah Al-Fussilat 41: 7, ketika Dia menggambarkan orang-orang musyrik, perkara pertama yang disebutkan untuk menggambarkannya adalah: “Mereka yang tidak memberi zakat, dan di akhirat mereka adalah orang-orang kafir.”

Penghapus Dosa

Dari Ka’b ibn ‘Ujza, Nabi ﷺ berkata,‘Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (Tirmidhi) Oleh yang demikian, sedekah merupakan cara terbaik untuk menghapuskan dosa-dosa kita yang lalu.

Mendapat nNaungan di Hari Pengadilan

Dilakukan dengan ikhlas dan sembunyi-sembunyi, sedekah adalah cara untuk menjadi antara tujuh kategori orang yang akan berada di bawah naungan Allah pada hari kiamat, hari di mana tidak akan ada bayangan lain melainkan bayangan-Nya, ketika matahari akan dekat dan ada yang akan mandi berpeluh.

Dalam satu hadis daripada Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad menerangkan:

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan daripada Allah pada hari kiamat apabila tidak ada naungan melainkan naungan Allah. Mereka adalah:

• Pemimpin yang adil.

• Pemuda yang sejak kecil sudah beribadat kepada Allah yang Maha Besar lagi Maha Perkasa.

• Orang yang hatinya terpaut pada masjid.

• Dua individu yang saling mengasihi kerana Allah, kedua-duanya berkumpul kerana Allah dan berpisah pun kerana Allah.

• Lelaki yang dipikat wanita yang mempunyai status dan kecantikan tetapi dia berkata: “Percayalah, saya takut kepada Allah.”

• Orang yang bersedekah dan merahsiakan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.

• Orang yang ingat kepada Allah dalam keadaan sunyi lalu menitis air matanya. 

(Hadis diriwayatkan Bukhari dan Muslim)

Mendapat Tempat di Syurga

Allah berfirman dalam surah At-Tawbah 9: 111,

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga,

Menyucikan Kesalahan yang Tidak Disengajakan

Mungkin ada kesilapan dan kekurangan dalam cara kita memperoleh harta benda, dengan hasil beberapa dari mereka tidak diperoleh dengan cara yang diredhai Allah. Sedekah membantu membersihkan kesalahan yang tidak disengajakan ini. Abu Dawud melaporkan dari Qays ibn Abi Gharaza bahawa Nabi Muhammad bersabda:

‌يا ‌معشر ‌التجار، إن البيع يحضره الحلف واللغو، فشوبوه بالصدقة

Maksudnya: Wahai para peniaga! Sesungguhnya dalam jual beli akan melibatkan sumpah palsu dan perbuatan yang lagha. Oleh itu, campurkanlah jual beli kamu dengan sedekah.

Riwayat Ibn Majah (2145)

Untuk lima sebab itu, kita boleh mula bersedekah untuk orang yang paling dekat dengan kita; keluarga besar, rakan, jiran, atau bahkan orang yang kita temui di jalan yang mungkin memerlukan pertolongan. Ini adalah langkah kecil untuk kemudiannya membantu komuniti yang lain pada skala yang lebih besar.

Seruan Untuk Menghulur Bantuan

Muslim Pro menyokong pengumpulan dana kecemasan UNICEF di Afghanistan yang mana hasilnya akan membantu kanak-kanak di seluruh Afghanistan yang memerlukan bantuan kemanusiaan untuk terus hidup. 4.2 juta kanak-kanak tidak bersekolah, termasuk 2.2 juta kanak-kanak perempuan. Sumbanglah hari ini untuk membuat perbezaan dalam kehidupan mereka.

Semoga Allah SWT mengurniakan anda dan keluarga anda keberkatan dalam kesihatan dan kekayaan.

________________________________________________________________________________________

Ditulis oleh Vincent Souleymane.

Vincent Souleymane, seorang imam Perancis dan penasihat syariah di Muslim Pro, telah menggunakan segala waktunya untuk belajar dan memperkaya orang lain dengan pengetahuan sains Islam sejak dia memeluk agama itu pada tahun 1999. Semasa belajar di Institut Oussoul Eddine di Saint-Denis , beliau sedar akan pentingnya berbakti kepada Allah dan memutuskan untuk melanjutkan pelajaran keagamaannya di Daroul ouloum achrafiya di Pulau La Réunion dan di IESH Château Chinon. Sejak itu, Vincent Souleymane mengabdikan diri kepada Yang Mahakuasa dengan mengajar Islam di Institut Oussoul Eddine, serta menjadi imam di Masjid Fontenay sous Bois.

Naviguer Le Bien-Être Mental En Tant Que Musulman

Depuis près de deux ans maintenant, nous avons traversé de nombreuses épreuves depuis l’émergence du défi sanitaire mondial toujours d’actualité : le Covid-19. Alors que le rythme de la reprise s’accélère avec la réouverture prudente et progressive des frontières physiques, cela ne signifie pas que nous sommes libérés des douleurs liées à la gestion émotionnelle de la pandémie.

L’une des principales préoccupations dont aucun d’entre nous n’est sorti indemne est l’apparition de la “fatigue pandémique”. Selon l’Organisation mondiale de la santé (OMS), la fatigue pandémique fait référence aux “personnes … qui se sentent démotivées pour suivre les comportements recommandés afin de se protéger et de protéger les autres du virus”. Cela empiète sur la santé mentale où nous luttons constamment contre des sentiments et des émotions négatives qui pourraient très facilement nous submerger. Si nous ne restons pas vigilants, nous pourrions être enveloppés dans une bulle d’obscurité et de dépression.

Retourner à l’Essentiel

Nous sommes constamment tirés dans de nombreuses directions différentes en fonction de nos rôles et responsabilités familiaux et sociétaux uniques. Avant d’être pleinement capables de prendre soin des autres dans notre vie, nous devons nous assurer que nous allons bien. Commençons par nos habitudes quotidiennes.

Adoptez un régime alimentaire équilibré. Faites régulièrement de l’exercice. Dormez suffisamment. Vous avez déjà entendu tout cela ? En tant que musulman, nous avons également entendu ces conseils supplémentaires, la plupart du temps sans en connaître la raison : Effectuez les ablutions avant de dormir, surtout lorsque vous êtes confronté à une sorte de détresse, et dormez face à votre droite.

Ce conseil découle de l’émulation des habitudes de sommeil du Prophète Muhammad ﷺ. Comme raconté par Al-Bara ‘bin `Azib :

Le Prophète ﷺ m’a dit : ” Chaque fois que tu vas te coucher, fais des ablutions comme pour la prière, allonge-toi sur ton côté droit et dis ,

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“O Allah ! Je m’abandonne à Toi, je Te confie toutes mes affaires et je dépends de Tes Bénédictions avec espoir et crainte de Toi. Il n’y a pas de fuite devant Toi, et il n’y a pas de lieu de protection et de sécurité si ce n’est auprès de Toi, O Allah ! Je crois en Ton Livre (le Coran) que Tu as révélé et en Ton Prophète (Muhammad) que Tu as envoyé.”

[Sahih al-Bukhari, no. 247]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ‏{‏قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ‏}‏ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏.‏

Complétez cette routine de sommeil avec les prières suivantes : sourate Al-Falaq et sourate An-Nas. Narrateur : ‘Aisha :

Lorsque le Prophète ﷺ se couchait chaque nuit, il avait l’habitude de réunir ses mains en coupe et de souffler dessus après avoir récité sourate Al-Ikhlas, sourate Al-Falaq et sourate An-Nas, puis de frotter ses mains sur les parties de son corps qu’il était capable de frotter, en commençant par sa tête, son visage et le devant de son corps. Il avait l’habitude de faire cela trois fois.

[Sahih al-Bukhari, no. 5017]

Parlons de moi, pour de vrai

C’est la première étape pour nourrir des esprits sains. Parlez-en à un ami, écrivez dans votre journal intime ou partagez-le sur votre compte Twitter. Videz votre sac. La première étape est généralement la plus difficile à franchir, mais elle en vaut la peine. Il faut s’aider en se débarrassant d’un certain poids émotionnel qui nous a épuisés émotionnellement et physiquement pendant si longtemps.

Cela va dans le sens de ce que l’OMS a identifié comme l’une des stratégies clés pour lutter contre la fatigue due à la pandémie : Reconnaître les difficultés et y remédier. Trouvez ce groupe de soutien dans votre communauté. Nous devons prendre conscience que ce que nous vivons peut très bien être unique pour chaque individu ; cependant, ces expériences sont partagées par l’oumma mondiale qui dépasse les frontières physiques et culturelles.

Validez nos sentiments et faites le pas vers la guérison émotionnelle. Demandez une assistance médicale professionnelle, si nécessaire. Consultez les groupes de soutien dans vos communautés.

Contextualisez vos bénédictions

La Finlande s’est, une fois de plus, imposée comme le pays le plus heureux du monde. L’une des façons dont les chercheurs en sciences sociales ont mesuré le concept insaisissable du bonheur est l’étude du soutien social, qui a un impact sur les risques pour la santé mentale en fonction de la façon dont les gouvernements réagissent aux crises, notamment à la pandémie. L’une des raisons qui a propulsé la Finlande au sommet est “le haut niveau de confiance dans la façon dont la pandémie de COVID-19 a été gérée”.

Toutefois, cela ne signifie pas que tous les Finlandais font du saut à ski dans les champs du parc national d’Oulanka, à Kuusamo, pour éviter la dépression, par exemple. Outre ce système de soutien gouvernemental tangible, une autre opinion a fait surface, selon laquelle “il faut donner un sens à sa vie” pour être vraiment heureux.

Un bonheur ancré dans une vie qui a du sens. Compliqué ? Oui. Une priorité ? Oui. Réalisable ? Absolument !

En tant que musulman du monde entier dans le climat actuel, notre sentiment d’être et de valeur est généralement lié à notre identité. Nous nous épanouissons dans un environnement qui offre des possibilités de croissance, non seulement pour nos amis et notre famille, mais aussi pour nous-mêmes. Trouvez votre passion et suivez-la. Que ce soit le bénévolat, la peinture ou l’apprentissage de l’islam, aucune passion n’est trop banale si elle vous fait sourire, vous apporte du bonheur, revigore votre âme et vous aide à trouver le bon équilibre dans la vie.

Le bien-être mental est quelque chose que nous devons constamment entretenir et ne pas nous laisser, et ne pas laisser les autres (psst ! partagez cet article avec quelqu’un d’autre et encouragez-le à faire de même), être emportés par la monotonie de la routine de la vie quotidienne. Nous méritons le bonheur par la paix de l’esprit.

Écrit par : Helmy Sa’at

Traduit par : Elyssa Faucher

Bersedekah: 5 Alasan Mengapa Islam Menganjurkannya

Beramal atau sedekah dianggap sebagai salah satu tindakan yang paling disukai dan sangat dianjurkan dalam Islam. Allah SWT dan Nabi Muhammad ﷺ pun berkali-kali menyebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa beramal adalah suatu hal yang mulia dan harus dilakukan secara teratur.

Berbagai jenis kegiatan beramal dan perbuatan baik tersebut adalah termasuk membantu mereka yang membutuhkan, memberi makan orang miskin dan membutuhkan, membantu anak yatim dan para janda, berbagi harta Anda, dan membelanjakannya di jalan Allah. Beramal berupa sedekah adalah suatu pilihan, tidak wajib seperti zakat. Bersedekah juga tidak harus berupa harta. Bentuk sedekah bisa saja hanya berupa tersenyum kepada orang asing yang berpapasan di jalan atau sekadar berbagi pengetahuan. Berikut ini adalah lima alasan mengapa Islam menganjurkan sedekah:

Ciri-ciri Orang Beriman

Mengamalkan harta di jalan Allah adalah salah satu sifat orang-orang beriman. Di awal Surah Al-Baqarah, Allah memperkenalkan Al-Qur’an sebagai panduan bagi orang-orang beriman. Kemudian Ia juga menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman bahwa mereka adalah “mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Sebaliknya, dalam Al-Qur’an, Surah Fussilat 41:7, ketika Allah menggambarkan orang-orang musyrik, hal pertama yang disebutkan untuk menggambarkan mereka adalah: “Orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka ingkar terhadap kehidupan akhirat.”

Menghapus Dosa

Menurut Ka’b ibn ‘Ujza, Rasulullah  ﷺ bersabda dalam sebuah hadits, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.“ [Tirmidzi] Oleh karena itu, bersedekah merupakan cara yang cepat agar kesalahan kita diampuni. 

Naungan di Hari Kiamat

Jika dilakukan dengan ikhlas dan diam-diam, sedekah adalah salah satu cara untuk masuk ke dalam tujuh golongan orang yang akan berada dalam naungan Allah di Hari Kiamat. Hari di mana tidak ada bayangan lain selain bayangan-Nya, ketika matahari sudah dekat, dan manusia akan tergenang dalam peluh mereka berdasarkan kadar amalan mereka di dunia.

Menurut Abu Huraira RA, Nabi Muhammad ﷺ berkata, “Ada tujuh orang yang akan Allah naungi di Naungan-Nya pada Hari ketika tidak ada naungan kecuali Naungan-Nya; seorang pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah yang Maha Kuasa dan Agung, seorang pria yang hatinya melekat pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak berzina oleh wanita cantik dan berposisi tinggi tetapi dia menolak dan mengatakan: ‘Saya takut kepada Allah’, seseorang yang memberi amal dan menyembunyikannya, hingga tangan kirinya pun tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya dalam amal; dan seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.” [Bukhari]

Mendapatkan Tempat di Surga

Orang yang bersedekah menghormati perjanjian antara Allah dan orang-orang beriman, dan dalam perjanjian tersebut tersirat bahwa dia akan memperoleh tempat di surga. Allah berfirman dalam Surah At-Taubah 9:111, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

Menyucikan Kesalahan yang Tak Disengaja

Dalam kehidupan, mungkin ada kesalahan dan kekurangan dalam cara kita memperoleh harta, sehingga beberapa di antaranya tidak diperoleh dengan cara yang diridhai Allah. Sedekah dapat membantu menyucikan kesalahan yang tidak disengaja. Rasulullah juga menganjurkan sedekah untuk hal ini. 

Untuk kelima alasan tersebut, kita bisa mulai bersedekah untuk orang-orang terdekat, seperti keluarga besar, teman, tetangga, atau bahkan orang yang kita temui di jalan yang mungkin membutuhkan bantuan. Ini adalah suatu langkah kecil untuk nantinya kita bisa membantu masyarakat dalam skala yang lebih besar.

Panggilan Bantuan

Muslim Pro mendukung penggalangan dana darurat UNICEF untuk Afghanistan. Hasil penggalangan dana ini akan membantu anak-anak di Afghanistan yang membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. Tercatat sekitar 4,2 juta anak putus sekolah, termasuk 2,2 juta anak perempuan. Yuk, donasi hari ini untuk membuat perubahan yang lebih baik dalam hidup mereka!

Semoga Allah SWT memberkahi Anda dan keluarga dengan kesehatan dan rezeki yang melimpah.

———————————————————————————————————————————

Vincent Souleymane

Vincent Souleymane, seorang Imam Perancis dan penasihat syariah di Muslim Pro, telah meluangkan waktunya untuk belajar dan berbagi ilmu kepada orang lain dengan pengetahuan sains Islam sejak dia masuk Islam pada tahun 1999.

Semasa belajar di Institut Oussoul Eddine di Saint-Denis, dia menyadari betapa pentingnya berbakti kepada Allah dan memutuskan untuk melanjutkan pelajaran keagamaannya di daroul ouloum achrafiya di Pulau La Réunion dan di IESH Château Chinon.

Sejak itu, Vincent Souleymane mengabdikan diri kepada Yang Maha kuasa dengan mengajar Islam di Oussoul Eddine Institute, serta menjadi imam di Masjid Fontenay sous Bois.

Navigating Mental Wellness As A Muslim

We have been through so much for nearly two years now since the emergence of the still ongoing world health challenge — Covid-19. As the pace of recovery picks up with the cautious and gradual reopening of physical borders, that does not mean we are unshackled from the pains of having to deal with the pandemic emotionally.


One major concern which none of us has escaped unscathed is the infliction of “pandemic fatigue.” According to the World Health Organisation (WHO), pandemic fatigue refers to “people … feeling demotivated about following recommended behaviours to protect themselves and others from the virus.” This encroaches into mental health where we are constantly battling negative feelings and emotions which could very easily overwhelm us. It could potentially envelop us in a bubble of darkness and depression, if we do not remain vigilant.

Go Back To Basics

We are constantly pulled in many different directions based on our unique familial and societal roles and responsibilities. Before we are fully capable of taking care of others in our lives, we need to make sure that we are well. Start small, with our daily habits.

Adhere to a balanced diet. Exercise regularly. Get sufficient sleep. Heard it all before? As a Muslim, we would have also heard such additional advice, mostly without knowing the rationale behind it: Perform the ablution before sleeping, especially when you are facing some sort of distress, and sleep facing your right. 

Such advice stems from the emulation of Prophet Muhammad’s ﷺ sleeping habits. As narrated by Al-Bara ‘bin `Azib:

The Prophet ﷺ said to me, “Whenever you go to bed perform ablution like that for the prayer, lie on your right side and say,

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

O Allah! I surrender to You and entrust all my affairs to You and depend upon You for Your Blessings both with hope and fear of You. There is no fleeing from You, and there is no place of protection and safety except with You O Allah! I believe in Your Book (the Qur’an) which You have revealed and in Your Prophet (Muhammad) whom You have sent.”

[Sahih al-Bukhari, no. 247]

Complete such sleeping routine with the following prayers – Surah Al-Falaq and Surah An-Nas. Narrated ‘Aisha:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ‏{‏قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ‏}‏ وَ‏{‏قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ‏}‏ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏.‏

Whenever the Prophet ﷺ went to bed every night, he used to cup his hands together and blow over it after reciting Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq and Surah An-Nas, and then rub his hands over whatever parts of his body he was able to rub, starting with his head, face and front of his body. He used to do that three times.

[Sahih al-Bukhari, no. 5017]

Let’s Talk About Me, For Real

It is the first step to nurturing healthy minds. Talk to a friend, write in your diary or share it on your Twitter account. Get it off your chest. Usually the first step is the most difficult to start with, but it is worth it. Help ourselves by lifting some of that emotional weight off our shoulders which has been draining us emotionally and physically for so long.

This is in alignment with what the WHO has identified as one of the key strategies in combating pandemic fatigue: Acknowledge and address the hardship. Find that support group in your community. We need to realise that what we are experiencing could very well be unique to each individual; however, such experiences are shared by the global ummah which cut across physical and cultural boundaries.

Validate our feelings and take that step towards healing ourselves emotionally. Get professional medical assistance, if need be. Check out support groups in your communities.

Contextualise Your Blessings

Finland has, once again, emerged as the world’s happiest country. One way social scientists have measured the all elusive concept of happiness is by studying social support which has an impact on mental health risks based on how governments respond to crises, particularly the pandemic. One reason that propelled Finland to the top being “high levels of trust in the way the COVID-19 pandemic was handled.”

However, this does not mean that every Finnish is skipping through the fields of Oulanka National Park in Kuusamo, avoiding depression, for instance. Besides such tangible governmental support system, another opinion has surfaced which argued that “one has to experience one’s life as meaningful” in order to be truly happy.

Happiness rooted in one’s meaningful life. Complicated? Yes. A priority? Yes. Achievable? Absolutely!

As a global Muslim in today’s climate, our sense of being and worth is usually tied to our identity. We thrive in an environment that provides opportunities for growth, not only for friends and family, but ourselves. Find that passion and follow it. Be it volunteerism, painting or learning more about Islam; no passion is too trivial if it makes you smile, brings you happiness, invigorates your soul and helps in finding that right balance for you in life.

Mental wellness is something we need to constantly nurture and not let ourselves, and others (psst! share this article with someone else and encourage them to do the same), be swept away by the routine monotony of daily life. We deserve happiness through a peace of mind.

Written by: Helmy Sa’at

5 Choses Que Je Ne Savais Pas Sur La Crise Humanitaire En Afghanistan

Nous avons tous assisté, avec frustration, colère, horreur, tristesse ou un mélange de toutes les émotions imaginables, au décollage du dernier avion militaire américain de l’aéroport de Kaboul, en Afghanistan, le 30 août 2021. Il semblait alors évident pour beaucoup que c’était un signal clair marquant la fin d’une guerre qui a duré deux décennies, coûtant des milliards de dollars et des centaines de milliers de vies précieuses.

Les répercussions se font encore sentir dans le monde entier. Alors que les experts politiques continuent de débattre de la question sur d’innombrables forums dans les médias, la guerre ne s’est pas simplement arrêtée là.

Des semaines avant la date limite du 31 août, les médias du monde entier ont diffusé des images d’Afghans risquant leur vie pour tenter de quitter leur pays après le retour des talibans au pouvoir. Qu’en est-il de ceux qui n’ont pas la même chance de pouvoir choisir ou qui ont choisi de rester dans leur pays bien-aimé ? Un pays qui est toujours en proie aux conflits et aux déchirements après des décennies d’occupation par des puissances étrangères et de luttes tribales intestines.

Nous sommes constamment inondés de nouvelles sur les médias traditionnels, auxquelles s’ajoutent des couches vertigineuses d’opinions sur les médias sociaux. Cela a permis à nos esprits et à nos âmes de se désensibiliser. Avec le temps, nous sommes devenus insensibles à la souffrance du peuple afghan. La normalisation de la crise humanitaire en Afghanistan ne devrait jamais se produire sous nos yeux. Les Afghans méritent notre attention et notre aide, quelle que soit la forme qu’elle prenne. C’est pourquoi, en tant que membres de l’oumma mondiale, nous devons nous montrer responsables en apprenant davantage et en comprenant l’évolution de la crise.

La Fleur du Diable

L’un des symboles les plus associés à l’Afghanistan est le coquelicot. Inoffensif à première vue, mais lucrativement mortel. Entre de mauvaises mains, ces fleurs rouges sont nuisibles à l’humanité. L’opium, un opiacé qui crée une dépendance, en est dérivé. L’Afghanistan est le premier producteur mondial d’opium, selon les conclusions de l’Office des Nations unies contre la drogue et le crime (ONUDC), publiées cette année. Il est responsable de plus de 80 % de la production mondiale d’opium qui a généré plus de 100 000 emplois pour le peuple afghan, en 2019. Rien qu’à Kaboul, 284 hectares de terres ont été utilisés pour cultiver le pavot. C’est l’équivalent de plus de 500 terrains de football ! C’est donc une activité économique rentable qui génère des revenus.

Mais pourquoi ce pays reste-t-il encore l’un des plus pauvres du monde selon la Banque mondiale ?

On estime qu’entre 100 et 400 millions de dollars US ont été absorbés par les talibans qui exploitent le commerce illicite de la drogue. La plupart des cultures de pavot se trouvant sur des terres contrôlées par les Talibans, il n’est pas surprenant que ces bénéfices ne se soient pas répercutés, et ne le font toujours pas, sur la population et l’économie dans son ensemble. Au lieu de cela, des milliards de dollars sont injectés en Afghanistan, par exemple par la Banque mondiale. Le financement de projets de développement qui continuent de plonger le pays dans un abîme de dettes toujours plus profond.

Les Communautés Déplacées dans un Climat en Constante Évolution

L’instabilité, la violence et les violations des droits de l’homme s’intensifient en période de conflit. Le peuple afghan n’est pas étranger à ces circonstances désastreuses qui l’obligent à fuir constamment pour sauver sa vie. Les restrictions d’accès à la nourriture, à l’eau potable, aux installations sanitaires et aux services de santé et de nutrition de base frappent continuellement le peuple afghan.

De plus, en raison des conflits et des violences prolongés qui s’ajoutent à la pandémie en cours, le système de santé déjà fragile est débordé, des centaines de milliers d’Afghans étant privés d’accès aux soins et au soutien psychologique.

Ce que beaucoup d’entre nous ne réalisent pas, c’est l’impact supplémentaire du changement climatique sur l’Afghanistan. Hélas, le réchauffement climatique aggrave de plusieurs fois la souffrance du peuple afghan. Rien qu’en 2018, environ 275 000 personnes ont été déplacées à titre interne. En outre, l’augmentation des sécheresses et des inondations fréquentes et graves entrave encore davantage la capacité de l’Afghanistan à nourrir sa propre population.

Une Compassion Urgente pour les Enfants Afghan

En temps de guerre, les enfants, les femmes et les personnes âgées deviennent le groupe le plus vulnérable. L’incertitude d’une vie décente après avoir dû fuir leur foyer, la privation d’éducation et de réseaux sociaux, ainsi que la privation des produits de première nécessité, tels que la nourriture et l’eau, font que les enfants afghans risquent de souffrir d’un retard de croissance et de développement en tant qu’individus en bonne santé.

Selon le Fonds des Nations unies pour l’enfance en Afghanistan (UNICEF), un million d’enfants de moins de 5 ans vont souffrir de malnutrition sévère ou aiguë. Ce que nous devons comprendre, c’est que même si l’aide est suffisante à court terme, la gravité de la situation rend nécessaire un réapprovisionnement constant. Nous ne pouvons pas nous permettre de fermer les yeux sur les 10 millions d’enfants afghans qui ont besoin d’une aide humanitaire. Ils sont, après tout, la future colonne vertébrale du pays pour tout espoir de stabilité et de paix.

L’éducation, Synonyme d’Autonomisation

De nombreuses activités doivent être suspendues lorsque l’on est pris dans une zone de guerre et que l’on est continuellement obligé de rester en mouvement. Ceci est particulièrement pertinent pour les jeunes filles et les femmes afghanes en ce qui concerne leur rôle dans la société afghane. Sur 7 millions d’élèves, seules 38 % des filles sont actuellement scolarisées.

L’éducation reste la clé d’un avenir meilleur. La jeune génération afghane mérite des chances égales d’avancement dans la vie, car elle est le futur moteur de l’économie du pays.

Cependant, avec les talibans au pouvoir, l’état actuel et l’avenir des filles et des femmes afghanes sont en péril. Les incertitudes sont grandes et ont enveloppé toute lueur d’espoir. Depuis la prise du pouvoir par les talibans, les médias sociaux et les informations nous apprennent que les femmes ont cessé d’aller à l’école par crainte pour leur sécurité et leur vie.

Acheminement des Fonds

Récemment, l’Union européenne (UE) a promis un milliard d’euros pour aider à soulager la crise humanitaire en Afghanistan. Est-ce que nous nous réjouissons instantanément après avoir entendu de tels chiffres ? Il ne s’agit jamais d’une simple transaction grossière. Pendant ce temps, les Nations unies (ONU) ont déclaré avoir besoin de 200 millions de dollars (USD) pour continuer à financer les besoins existants, notamment en matière d’alimentation et de transport, en Afghanistan. Cela met en évidence les systèmes complexes de navigation de l’aide et du financement dans des circonstances aussi extraordinaires.

Nous ne devons pas non plus nous réjouir du sentiment de gratification instantanée qui se fait passer pour un activisme creux chaque fois que nous donnons une somme d’argent. Nos dons ne s’arrêtent pas à la simple pression d’un bouton sur une page bancaire. Même les agences d’aide internationale, telles que les Nations unies, rencontrent des difficultés pour transmettre l’aide sous quelque forme que ce soit.

L’ONU rencontre de temps en temps des problèmes opérationnels. Il peut s’agir de tout et n’importe quoi, de quelque chose d’aussi simple que le transport de nourriture, qui nécessite plusieurs entrepreneurs et partenaires logistiques, à quelque chose d’aussi compliqué que des transferts d’argent impliquant des sanctions au niveau international imposées aux banques afghanes par d’autres pays.

Après avoir pris connaissance de ces informations, plus précisément des 5 choses que j’ai partagées plus en profondeur sur la crise humanitaire en Afghanistan, et en ayant nos smartphones en main, que pouvons-nous faire ? Il est facile de sombrer dans l’anxiété et de se paralyser dans l’inaction en pensant que nos contributions ne font rien ou presque pour améliorer la situation.

Or, c’est absolument faux !

Nous avons toujours le contrôle. Commencez toujours par des petits pas. Parlez-en. Sensibilisez votre entourage en partageant avec votre famille et vos amis, en plus de publier sur vos comptes de médias sociaux. Associez nos prières à de petites actions. Découvrez le soutien de Muslim Pro au fonds d’urgence de l’UNICEF pour l’Afghanistan et faites un don aujourd’hui pour changer la vie de millions d’enfants en Afghanistan, pour commencer.

Écrit par Helmy Sa’at

Traduit par Elyssa Faucher

إعطاء الصّدقة: ٥ أسباب يشجّعها الإسلام

إنّ الصّدقة من أعمال طيّبة ومشجّعة في الإسلام. قد ذكر الله والرسول ﷺ في القرآن أنّ الصدقة عظيم وأن يفعلها بشكل منتظم

الصدقة وبادرة اللطف تشملان من مساعدة شخص والفقراء والمساكين والأيتام والأرامل وإنفاق في سبيل الله. إنّ إعطاء الصّدقة إجباريّ عكس الزكاة وهي واجب. إنّ الصدقة ليس بشكل إعطاء الفلوس فقط بل الابتسام إلى غرباء على الطريق أو مشاركة العلم أيضا الصدقة

فالآتية هي ٥ أسباب يشجّع الإسلام الصدقة

صفة المؤمنين

إنفاق الأموال لله من صفات المؤمنين. في أوائل آيات سورة البقرة قدم الله أنّ القرآن إرشاد للمؤمنين ثمّ ذكر فيه صفات المؤمنين. قال: ‏ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنفِقُونَ

وأما في سورة فصّلات ٤١:٧ قد أوصف الله المشركين: الَّذِيۡنَ لَا يُؤۡتُوۡنَ الزَّكٰوةَ وَهُمۡ بِالۡاٰخِرَةِ هُمۡ كٰفِرُوۡنَ‏

رفع الإثم

عن كعب بن عجزة قال الرسول ﷺ في الحديث:  “الصدقة تطفئ الخطيئة كما يطفئ الماء النار”. [الترمذي] أي: أنها وسيلة سهلة لرفع الإثم

الإعانة في يوم القيامة

الصدقة المخلصة والصدقة سرّا من أقسام الناس ٧ الذين سيلقون إعانة الله في يوم القيامة هي يوم التي لا تجد شيئا إلّا مساعدته والشمس سيكون قريبا وبعض النّاس سوف يستحمون في العرق

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال الرّسول الله ﷺ: “‏سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله‏:‏ إمام عادل، وشاب نشأ في عبادة الله ، ورجل قلبه معلق في المساجد، ورجلان تحابا في الله، اجتمعا عليه، وتفرقا عليه، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال، فقال‏:‏ إنى أخاف الله، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجل ذكر الله خالياً ففاضت عيناه” ‏[البخاري ومسلم]‏

مكان في الجنّة

هو الشّخص الّذي يعطي احترام العهد بين الله والمؤمنين، والعهد يعني أنه سيدخل الجنّة. من قول الله تعالى في سورة التوبة ٩:١١١: إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ… الخ

طهر الذّنوب غير مقصودة

لا شكّ أن هناك الأخطاء والنّقائص الّتي لا يسعد الله بها عندما نمشي الحياة. فالصّدقة طريقة تطهّر الذنوب. روى أبو داود قيس بن أبي غَرزَة قَالَ: كُنَّا نُسَمَّى فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّمَاسِرَةَ فَمَرَّ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّانَا بِاسْمٍ هُوَ أَحْسَنُ مِنْهُ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ إِنَّ الْبَيْعَ يَحْضُرُهُ اللَّغْوُ وَالْحَلِفُ فَشُوبُوهُ بِالصَّدَقَةِ

فلسبب ٥ السابقة، يمكن نبدأ إعطاء الصدقة للأقرباء؛ عائلة كبيرة، أصدقاء، جيران أو هم الّذين نلتقي على الطريق ويطلبون المساعدة. هذه من خطوة صغيرة الّتي يمكننا نأخذه لمساعدة مجتمع في حالة المستقبل في مستوى كبيرة

نداء للإغاثة

إنّ مسلم برو لدعم اليونيسف في جمع الأموال في حالات الطوارئ لأفغانستان سيساعد الأطفال أنحاء أفغانستان الذين يطلبون مساعدات إنسانية لقيد الحياة. ٤.٢ مليون أطفال حتى ٢.٢ مليون بنات دون مدرسة. تبرّع اليوم لإحداث الفرق في حياتهم

بارك الله لكم وأسرتكم بالصحة والثروة

——————————————————————————————————————————-

اسم مساهم: فنسنت سوليمان 

فنسنت سليمان هو إمام فرنسي ومستشار شرعي في مسلم برو. كان يقضي وقته في تعلم وتعليم العلوم الإسلامية إلى الآخرين بعد اعتناقه إلى الإسلام سنة ١٩٩٩.عندما يدرس في معهد أصول الدين في سانت دينيس، أصبح مدركا لأهمية الإخلاص لله وقرر مواصلة دراسته الدينية

لشاتو تشينون IESH في دار علوم أشرفية بجزيرة لا ريونيون و في

ومنذ ذلك الحين. كرس فنسنت سليمان نفسه لله بتدريس الإسلام في معهد أصول الدين، كالإمام الفاضل في مسجد فونتيناي سوس بويس